dedicated to sekararum’s lovers

malam minggu


Kemarin adalah malam minggu yang indah…emm sekaligus tidak indah.

Malam minggu kemarin Dani pulang ke Jogja, lalu saya dan kroni-kroni saya (meminjam istilah Klowor) menikmati malam sampai pagi bersama-sama. Dani, saya, Ndokk, Gendut, dan Titit. Dani dari Jakarta, turun di stasiun lempuyangan jam setengah sebelasan, dijemput bapaknya, memulangkan bapaknya ke Jalan Kaliurang, lalu langsung meluncur gila-gilaan ke koz saya.

Kami sepakat untuk membeli bir, lalu nongkrong di Poci Kaliurang. Tapi begitu sampai di Kaliurang, mendadak para penumpang gila itu sepakat berubah pikiran bersama-sama, “kayaknya di Keteb view nya lagi bagus nih!” Sebagai seorang sopir gantelman yang penuh pengertian, Dani segera memutar arah keKeteb sambil misuh-misuh. Begitu hampir sampai Keteb, mendadak semua penumpang berubah menjadi religious, “kayaknya Sendangsono lebih asik deh ya..” Untuk usulan kali ini, Dani hanya misuh-misuh tanpa merubah arah.

Karena keegoisan Dani (haha..), jadilah kami nongkrong di Keteb. Itu pun Dani sambat
Dani: “Asu! Adem tenan! Nggak persiapan kalau mau ke Keteb. Cuma pake celana pendek dan Jaket tipis.”
Dani dan Ndokk saat itu memang sedang berkolor jijay. Saya juga Cuma bawa cardigan tipis sebenernya. Tapi di perjalanan, Dani menyerahkan titipan dari pacar saya. Pacar saya membelikan saya Jaket. Yuhuuu..anget!! Terimakasih, cintaaa..
Dani: “Kalau Cuma ke Kaliurang mah, kostum kayak gini nggak apa-apa!”
Titit: “Yo wis, Dan. Anggep wae iki Kaliurang”.
Dani: “Rha iso, Tit! Rha iso! Masalahe iki ono tulisane Keteb”.

Memang udara duingiiiiinn buanget! Kami mengusir dingin dengan masuk ke bagasi mobil sambil empet-empetan, ngudud-ngudud, dan ngebir-ngebir. Yah..standar saja sih kegiatannya. Seperti yang biasa kami lakukan kalau kami nongkrong nunggu sunrise. Ngobrolin Herman yang jadi tukang gulung benang, seno yang jadi tukang kredit, Pacar saya yang sukses jualan buku, Dani yang jadi buruh pabrik sabun dengan jobdesk yang rawan bacokan (jobdesk Dani: pengawas, a.k.a tukang misuhi kuli bikin sabun yang kerjanya meleng), Saya dengan kuliah profesi saya yang ajubile bikin gila dah, dan tentu mencela mereka-mereka yang S1 nya tidak tamat-tamat. Haha..

Ada juga tips berguna dari Titit.
“Masukan di tong atau drum minyak, siram dengan air aki. Itu akan menghancurkan daging dan tulang-tulangnya sekalian. DNA nya pun akan hilang. Karena aki adalah asam yang super kental. Lalu untuk pakaiannya, dibakar. Jangan dibakar terus ditinggal, tapi dibakar sampai habis, dibolak-balik, dan abunya di buraikan. Cara diatas harus segera dilakukan begitu mati. Jangan ditunda-tunda, karena makin lama, mayat akan berbau tidak sedap dan makin memancing kecurigaan. Rencanakan mutilasi dengan baik. Persiapkan dulu bahan-bahannya. Beli air aki di bengkel-bengkel. Jangan sekaligus, tiap bengkel cukup beli dua liter. Jadi, belilah di beberapa bengkel. Khan paling tidak di Jogja ada khan ya kalau Cuma 20 bengkel yang jual aki.”

Saya membayangkan
Saya: *berjongkok sambil mengaduk-aduk mayat dengan air aki di dalam tong di depan halaman koz*
Ibu tetangga depan rumah: “Ndamel nopo, mbak Arum?”
Saya: “Eh..enggak kok bu.. Cuma lagi ngilangin bukti pembunuhan yang kemaren saya lakukan”

Gendut membayangkan
Gendut: “Pak, beli aki dua liter.”
Bapak tukang bengkel: “Oh..nggih,” berbasa-basi sambil mengambilkan aki, “kangge nopo tho, mbak agnez?”
Gendut: “Eh..namung kangge persiapan mutilasi kok pak”.
Hwaahh..selain Titit, kami-kami memang tidak punya bakat kriminal.

Tapi kegiatan standar itu, sangat mengangenkan sekali banget!!!! Hwaaaaa…sedihh!! Andai kami bisa begini terus sepanjang waktu. Empet-empetan di bagasi belakang mobil bapaknya Dani. Bir dan rokok, persahabatan dan celaan, kehangatan dan pengertian.. Yang cantik (saya) dan yang hancur (Titit), Yang Gendut (Gendut) dan yang sexy (saya), yang pinter (saya) dan yang pekok (Dani), yang tua (Ndokk) dan yang muda (saya), semua berpelukan, berbagi rasa.

Hwaaaaaa… Kangen. Sedih rasanya mengingat besok-besok kita sudah harus beraktivitas sendiri-sendiri. Saya kembali kekelas, Dani ke pabrik sabun di Jakarta, dan begitu pula yang lain-lain. Momen-momen seperti ini memang indah dan berharga..

Lalu begitu Ndokk sudah memakai celana dan memantapkan duduknya di bagasi hangat itu, dan menyulut sebatang rokok, kami memutuskan untuk pulang (haha..). Memang hal teroke menurut kami adalah merecoki kenyamanan teman.

Sumpah saya kangen. Saya rasanya rela menukar satu gigi taring saya demi bisa menikmati momen seperti itu lebih sering lagi. Tapi apa daya. Life must go on. Saya harus menyongsong hari senin seorang diri dengan kepala tegak. Gudbye may prend.. Heloow auditing, heloow accounting, heloow bussines Ethic, heloow pak Arippppp.

Hwaaaaaa….
(lebay..)

Bloon for my cheek


Selebritis juga manusia. Punya aktivitas pribadi sendiri-sendiri. Punya masalah sendiri-sendiri.

Kalau Dewi Persik berantem sama Andy Soraya,
Cinta Laura berlibur ke Bali dengan Emak dan Daddynya,
Poppy Bunga menikmati liburan mesra ke Bangkok bersama Mandala,
Laudya Chintya Bella bermasalah dengan berat badannya,

saat ini, saya sedang serius-seriusnya belajar ber Make-Up.

Bukannya saya bertampang down sehingga perlu di Make-Up, tapi saat ini saya sedang menyadari pentingnya dan asyiknya ber Make-Up. Make-Up membuat penampilan kita terlihat lebih oke, dan Make-Up jaman sekarang menunjukan kelas. Jadi Make-Up membuat kita look more classy.

Saya memfokuskan pelajaran Make-Up ini pada pemakaian dan pemilihan warna Bloon (baca: Blush on). Karena kata … eh, siapa sih entu yang maen di sinetron Gerhana yang “pussssssiiing pusssssssiiing” itu? … “Yang perlu diperhatikan dalam memakai Make-Up untuk sehari-hari agar penampilan lebih fresh adalah blush on, lip gloss, dan mascara”. Nah, karena saya sudah terbiasa memakai lip gloss dan mascara, jadi tinggal belajar memakai bloon.

Saya Tanya pacar saya
Saya: “Yink, kamu suka nggak ceweq bloon?”
Pacar saya: “Suka, asal nggak terlalu medak-medok kayak pemain lenong”

Oke deeeeehhh… Tapi memang pada dasarnya pacar saya itu suka sama ceweq dandan. Dia sering sekali memaksa saya belajar dandan. Tapi berhubung saya dulu-dulu belum tertarik, jadi saya keukeuh tidak dandan. Dan dia juga tidak memaksa lagi, mungkin karena muka saya memang sudah cantk jelita dari sononya jadi tidak perlu dandan, jadi pacar saya tidak ngotot.

Pertama, saya belajar cara Make-Up keseluruhan dulu dari Evy, yang konon kabarnya hoby ikut beauty class-beauty class gratisan. Tapi dia Cuma mengajari saya Make-Up standar. Make Up yang biasa di pakai oleh mbak-mbak oke untuk wawancara kerja, atau Make Up yang dipakai oleh mbak-mbak pegawai Matahari Departemen Store.

Dari situ saya tau cara standar memakai bloon. Cara berbloon ala Evy: dari arah atas telinga sampai ujung hidung. Pakai kuas yang besar, biar pemakaian rata. Bloon yang bagus adalah yang warnanya di mix, biar lebih sesuai dengan warna asli rona muka kita. Ya…mendekati warna muka kita kalau habis ditampar lah! Kalau menurut saya sih biru lebam, tapi menurut Evy merah bata campur Pink.

Kebetulan saya mengembat Bloon Embah saya. Merknya sangaaaaattt jadul, Fanbo Gold. Warnanya merah bata dan Pink norak. Saya lebih suka yang Pink norak. Bikin Pipi saya pink norak merona.

Lalu saya mulai bertanya kepada para pemakai.

Yang pertama adalah Tjetjeu. Saya bertanya dengan kalap dan membabi buta menganai cara pemakaian bloon. Menurut Tjetjeu, karena muka saya cubby, saya sebaiknya memilih bloon warna merah bata, dan diaplikasikan ke rahang, bukan tulang pipi. Saya sempat bingung, karena setahu saya rahang itu dagu, di bawah mulut. Buat apa memberi rona di dagu? Ternyata maksud tjetjeu adalah di bawah tulang pipi, dari arah telinga atas, disapukan mengikuti gigi bawah. Istilahnya, Shading. Tapi saya tidak bisa memakainya. Sepertinya lebih mudah dipakai di tulang pipi saja.

Lalu tjetjeu kembali memberi tips. Cara berbloon ala tjetjeu: kalau kita senyum, khan ada bagian pipi yang membulat tuh? Na bagian itu kita kasih bloon, sampai kearah telinga bagian atas. Usahakan tampilan bloonnya nanti hanya terlihat tebal saat kita tersenyum. Jadi saat kita termingkem, bloonnya nyaris tidak terlihat. Warna bloon yang harus dipunya adalah pink dan coklat.

Awalnya tjetjeu menyarankan saya membeli merk Maybelline. Tapi saya lihat di counternya, yang creamy blush, saaaaaaaangat bergliter. Tjetjeu juga sangat merekomendasikan Oriflame Giordani Gold Bronze Pearl. Bloon ini bentuknya bulet-bulet kecil-kecil kayak tai kambing. Bedanya sama tai kambing, bloon ini wangi dan warnanya pink, coklat muda, dan coklat tua, bukan item-item tai kambing.

Rekomendasi Tjetjeu soal oriflamme ini juga didukung keras oleh Yeyek. Dia bilang, itu bloon teroke sejagat raya. Tapi saya jelas tidak akan membelinya seoke apapun bloon itu, karena harganya 179 juta. Terlalu mahal untuk kantong pengangguran banyak maunya seperti saya. Saya juga sempat mencoba oriflamme kepunyaan Yeyek. Ternyata warnanya tidak kelihatan saat diaplikasikan di pipi. Katanya sih, karena saya tidak bisa memakainya. Ah malas, susah!!! MAHAL!!!!!

Lalu tjetjeu menyarankan saya membeli bloon abal-abal di Stlobeli. Tau khan abal-abal? Itu, kosmetik murahan dengan merk tidak jelas buatan mana tidakjelas dan kualitas yang tidak jelas pula. Tapi lumayan kok buat punya-punya. Cuma masalahnya, karena serba tidak jelas itu, tidak jelas juga resikonya. Ntar takutnya menyebabkan flek, koreng, infeksi, pendarahan, kemandulan, argh…. Takut. Nggak ah… Say no to abal-abal!!!

Lalu JJ, seorang teman yang kebetulan berprofesi sebagai model, memberi saran, pakai bloon Revlon Limited Edition 2008 yang Floral Affair. Pilihan warnanya ada 4, tapi yang oke adalah Honey Bunch dan Peachy Keen. Saya coba membuka website Revlon. Hmmm…oke juga.
Saya: “Berapa harganya?”
JJ: “Cuma 130 juta”
Saya: *syok*
JJ: “Murah tauuu. Worth it kok!”
Saya: *syok*

Revlon yang itu masih terlalu mahal menurut saya. Karena saya sedang dalam taraf belajar, jadi saya mau beli yang murahan saja. Sandra menyarankan saya membeli Caring Colour, yang warnanya Terra Pasion. Warnyanya oranye salem githu. Tapi saya lebih suka bloon dengan warna Pink, karena kulit saya kalau di tampar warnanya pink, bukan oranye. Pink nya Caring Colour menurut saya kurang Oke. Padahal harganya lumayan murah, cuma 49 juta.

Yeyek menyarankan saya memeli Bloon Merk Pixy yang Colour Delight. Murahan. Cuma 21 juta. Warnanya juga oke-oke. Saya sempat mampir ke counter Pixi dan mencoba. Waktu di coba di sana oke banget. Tapi setelah dibawa pulang dan saya coba lagi, ternyata bergilter. Kata pacar saya, “bagus kok, kayak Feti Verra”.

Lalu saya coba buka-buka forum dialog kecantikan. Rata-rata, mbak-mbak member kafegaul.com, ketika ditanya, memkai Revlon yang Pink. “Revlon yang Pink”.

Lalu saya mampir ke counternya Revlon di Matahari. Pertama jelas saya Tanya harga dulu, 53 juta. Hmmm…lumayan terjangkau.
Saya: “Mbak, mau yang pink donk!”
Mbak-mbak sales Revlon: “petal, roseberry, softspoken pink, berry rich, smoky rose, love that pink, everything’s rosy, pink blus, pink peony, rossy glow, atau berry flirtatious?
Saya: ????@@@@@

Dan sampai detik ini, saya masih belum memutuskan akan memakai bloon yang mana.

Kuntilanak


Saya sedang sangat sangat sangat terobsesi untuk menjadi Kuntilanak!!

Ide ini berawal dari ditebangnya pohon asem di pinggir Jembatan yang membelah hutan di dekat b’jong kopi. Pohon itu bukan sembarang pohon asem. Pohon asem itu adalah pohon kesayangan Pocong. Banyak saksi mata yang mengatakan bahwa mereka sering melihat pocong nongkrong disitu. Yang saya heran, mereka bercerita dengan bergidig ngeri, bahkan berniat jahat untuk mengusir si pocong itu dari sana.
"Saya lihat pocong. Sereeeeemmm banget."
"Takut?"
"Ya iya lah.."
"Lalu, apa yang kamu lakukan?"
"Lari terbirit-birit"
"Lalu, apa yang pocong lakukan?"
"Memperlihatkan diri pada saya dari bawah pohon asem"
"???"

Sekarang begini, pohon asem itu sudah tua sekali. Mungkin lebih tua dari kita. Dan entah sejak kapan pocong itu suka nongkrong disana. Mungkin bahkan sebelum kita lahir, pocong itu sudah suka nongkrong dibawah pohon asem, yang memang cozy githu deh buat nongkrong malem-malem. Lagi pula ya, pocong itu hanya berdiri berdiam diri di bawah pohon. Tidak mengejar lalu mencekik kita. Bahkan tidak mengeluarkan suara dan bau. Sah-sah saja kalau kita takut. Karena memang itu keahlian dia, menakut-nakuti yang hidup. Tapi kalau sampai berniat mengusirnya? Ouw..sungguh tidak berperikepocongan!! Biacong! Bajingcong!!

Nah, sekarang pohon asem cozy itu ditebang, dan jalan jembatan diperlebar. Kasian sekali pocongnya. Nongkrong dimana dia? Khan bukan salah dia kalau dia berbentuk pocong (yang sebenernya biasa aja tapi karena propaganda layar kaca menjadi dianggap menyeramkan). Masa iya dia minta menjadi semahluk pocong yang diikat dan dibuntal seperti itu? Itu khan mahluk ciptaan imajinasi manusia (yang sebenarnya tidak minta di jadikan objek imajinasi), yang kemudian mewujud karena kekuatan pikiran dan kelelahan otak, imajinasi tinggi, ingin pergi dari realita, atau dengan kata lain STRES!

Tapi memang sih bentuk pocong itu sangat tidak mengundang simpati. Jelek, buluk, dan old fashion. Tapi bukan salah dia sebenarnya kalau dia buruk. Mengapa juga manusia menciptakan dia seburuk itu, dan mengapa layar kaca memvisualkannya dalam bentuk begitu? Coba kalau kita dari awal mula membayangkan dan memfilmkan pocong itu seperti Ari Wibowo atau Tom Cruise. Pasti tidak akan seseram itu.

Saya jadi teringan akan jenis demit yang lain. Demit yang satu ini menurut saya sangat oke. Cantik, menarik, popular. Dia adalah Kuntilanak. Kalau pocong dengan buntalan putihnya dikatakan old fashion, kuntilanak dengan gaun putih dan elegannya saya katakan sebagai the basic fashion. Gaun putih, bagaimanapun juga, selalu akan menjadi trend pada musim apapun, bila didukung dengan aksesoris dan model yang tepat.

Dan Kuntilanak ini selalu menjadi inspirasi bagi saya. Oke, kita akan sedikit menengok sejarah. Apakah ada yang ingat kuntilanak pertama diindonesia? Yup, Suzana. Suzana benar-benar kuntilanak sejati. Sangatlah cocok bila dia disebut-sebut sebagai pelopor kuntilanak Indonesia. Dia cantik, dengan kecantikan yang mistis dan klasik. Dan juga sangat berkarakter…horor. Yang paling tertanam dan meninspirasi saya adalah adegan ketika dia makan sate. Ceritanya dia mencegat abang tukang sate keliling
Kuntilanak: dengan nada datar "Bang, sate 10 tusuk".
Abang tukang sate: "Pake lontong neng?"
K: dengan nada datar "Enggak, bang".
Lalu kuntilanak makan dengan lahap 3 tusuk sekali telan
K: dengan nada datar "Lagi, bang"
Lalu Kuntilanak makan lagi
K: dengan nada datar "Lagi, bang"
Lalu Kuntilanak makan lagi
K: dengan nada datar "Lagi, bang"
ATS: mulai curiga "Banyak amat atuh, neng?"
K: dengan nada datar "Buat anak saya, bang"
ATS: "Anaknya mana, neng?"
K: dengan nada datar "Dipunggung saya, bang"
Lalu kuntilanak berbalik dengan dramatis. "Iiiiiiihiyhiyhiyhiyyyyyyy…."

Atau adegan yang ini…
Kuntilanak mendatangi pos ronda. Lalu merayu tukang ronda yang kedinginan di malam sepi tanpa pelukan hangat sang istri yang sudah di rumah mengeloni anaknya.
Abang tukang ronda: dengen nada genit "Sendirian aja, neng?"
K: dengan nada datar "Iya, bang"
ATR: "Mau abang temenin?"
K: dengan nada datar "Iya, bang"
Lalu kuntilanak berjalan menghampiri pos ronda
K: dengan nada datar "garukin punggung saya dong, bang"
ATR: mulai bertampang mesum "hikhikhik…gatel ya, neng?"
K: dengan nada datar "Iya, bang, banyak cacingnya…"
Lalu kuntilanak berbalik dengan dramatis. "Iiiiiiihiyhiyhiyhiyyyyyyy…."

Dan masih banyak adegan yang membekaskan trauma pada diri anak kecil di kala itu

Tapi kuntilanak tidak pernah mati gaya. Dia tidak akan pernah jobless. Bayangkan, pada jaman suzana saja, kuntilanak hadir dengan beberapa versi: Nyi Blorong, Kuntilanak melahirkan di kubur, sundel Bolong sang sundal penikmat sate, siluman ular, dll. Lalu pada jaman saya SD, kuntilanak hadir dengan kemasan yang lebih sexy, yaitu si Manis Jembatan Ancol. Lalu muncul kuntilanak-kuntilanak pendendam yang lain. Dan di jaman sekarang, kita mengenal kuntilanak penunggu terowongan casablanca yang hoby dugem, dan kuntilanak bintang iklan M150 susu yang bertoket bohay…

Dan bahkan sekarang kuntilanak sedang merilis album, dengan hits andalannya: Rintihan Kuntilanak

Rintihan Kuntilanak
Malam sepi kusendiri
‘ku duduk manis diatas pohon
‘ku biarkan rambutku terrrruraiii
ditemani kelelawar anjing hutan (hauuuuuuunnnggg…)
Reff:
Ayo matiiiii kekasihku
Cepat matiiiii bunuh diri
ayo matiiiii kekasihku
Biar kita jumpa lagiiii
Iiiiiiiiiiihiiiyhiyhiyhiy….

Tapi sebenarnya disitulah kesalahan media masa dalam menggambarkan kuntilanak. Mereka mengeneralisir bahwa semua kuntilanak itu direproduksi dengan cara begini: Ceweq cantik jalan malem-malem sendirian, diperkosa rame-rame, dibunuh, dikubur di hutan atau di kebun belakang rumah tua, lalu tarrrrraaaa…kombinasi dari semua itu akan menlahirkan kuntilanak. Dan kuntilanak selalu digambarkan mendendam. Padahal tidak segampang itu!!! Proses untuk menjadi kuntilanak itu sangat rumit dan berat. Dengan segala seleksi dan syarat-syarat yang tidak semua orang bisa. Dia harus memenuhi syarat brain, beauty, dan behavior. Selain itu kuntilanak juga harus cinta lingkungan. Jadi bukan sekedar ceweq cantik diperkosa lalu mendendam. Sekali lagi, kuntilanak itu punya prinsip!!

Baik kuntilanak maupun pocong merupakan aktivis dibalik slogan anti global warming. Mereka turut membantu pelestarian alam dan lingkungan hidup, juga merupakan pemertahan hutan indonesia yang paling gigih. Bayangkan saja komitmen mereka, mereka akan menghantui orang yang berani-beraninya menebang pohon yang mereka jaga. Bayangkan seandainya pocong dan kuntilanak di sebarkan di seluruh dunia. Maka penggundulan hutan dan penebangan semena-mena mungkin bisa dikurangi.

Tapi memang realitanya, semakin terpelajar suatu masyarakat, semakin mereka tidak menghargai alam. Mereka jadi tidak takut lagi pada kuntilanak dan pocong yang oke punya dan keren abis itu. Buktinya, mereka tetap saja menebang pohon asem deket b’jong, walau jelas-jelas pocong dengan gigih telah menghantui pohon itu bertahun-tahun. Penghargaan manusia akan alam dan pocong sudah tidak ada lagi. Kasian sekali khan kalau eksistensi mereka tidak diakui? Mereka juga punya perasaan, ingin dihargai, ingin eksis!! Sesama mahluk Tuhan janganlah saling membenci githu dong. Tapi saya mendukung pocong untuk terus menghantui pohon-pohon yang masih tersisa di Indonesia, di seluruh dunia. Kalau memang satu pocong tidak cukup lagi untuk menjaga pohon, kerahkan bangsamu wahai dedemit. Biarlah satu pohon ditunggui oleh 5 sampai dengan 10 pocong. Penuhi hutan Indonesia dengan pocong.

Dan para kuntilanak, duduklah manis di atas pohon kalau tidak sedang ada syuting. Tanamlah satu pohon, dan hantuilah pohon itu dari kecil. Kalau perlu, rumput, semak-semak, pohon cabe, dan pohon jengkol hantuilah saja semuanya.

Anak-anak Kucing


BBM naik. Dan Kitty pun melahirkan…

Bagi yang belum tahu, Kitty adalah kucing peliharaan di koz saya. Sebenernya bukan peliharaan sih. Kitty ini adalah kucing kampung putih belang abu-abu yang tidak diketahui asal-usulnya. Nama lengkapnya “Kitty kitty ja ja cha cha hey hey hey..”

Pada awalnya, dia suka berkunjung ke koz. Cuma berkunjung saja. Seperti
selayaknya tamu. Paling sehari dia main sekitar 3 sampai 4 jam. Lama-kelamaan, porsi kunjungannya meningkat. Bahkan dia tidak pulang
waktu jam makan. Karena khawatir, bagaimana bila si kucing telat makan lalu sakit maag, maka bu Mirah, ibu penjaga koz mulai memberi si Kitty sarapan, susu, makan siang, camilan sore, dan makan malam. Lama-kelamaan si Kitty ini tidak pulang sama sekali, menetap, dan begitu saja menjadi penghuni koz-kozan Kasuari 7.

Kitty ini datang waktu dia masih perawan dulu. Berhubung Kasuari 7 letaknya
sangat strategis dan mudah di jangkau baik melalui jalan darat maupun jalan atap untuk para kucing, maka sering kali para kucing di desa ini berkunjung ke koz. Tapi hanya Kitty yang menetap. Dan hanya Kitty juga yang ramah terhadap kami, para manusia penghuni koz Kasuari 7.

Diantara para pengunjung itu, ada seekor kucing jantan yang gantheng sekali. Warnanya oranye. Kepalanya besaaaaarr sekali. Sepertinya si gantheng ini sombong alias besar kepala, karena dia menyadari keganthengannya. Kata si gendut, si Gantheng adalah jenis kucing garong.

Usut punya usut, ternyata si Gantheng ini punya misi PDKT dengan sang perawan Kitty yang walaupun tidak begitu cantik tapi ramah, supel, dan mudah bergaul. Saya sih menilai PDKTnya sukses, karena mereka sering terlihat berpacaran, dan si Kitty juga kemudian hamil tak lama kemudian.

Kehamilan Kitty tentunya saya sambut dengan bahagia. Si Kitty ini jadi pemalas
sekali semenjak hamil. Kerjanya hanya tidur-tidur saja. Makan pun harus di bawakan ke hadapannya. Benar-benar pemalas. Kucing gendut yang pemalas.

Belum lama ini si Kitty melahirkan. Anaknya ada 6 ekor. Lucu-lucu dan belum
bisa melek. Tadinya saya pikir hanya 5 ekor. Tapi ternyata Kitty memindah-mindahkan anaknya secara berkala, dan lupa pada si anak ke 6 yang tertinggal di belakang ember cucian lantai 1. Kata Klowor, si Kucing bukannya lupa. Tapi kucing itu tidak mengenal angka 3. Jadi ketika memindahkan anaknya, setiap memindah, dia menghitung. “satu, dua, empat, lima, enam. Oh..sudah pas, enam.” Begitu. Jadi yang tertinggal bukan anak keenam melainkan anak ketiga. Untuk mengatasinya, si Kitty harus dibohongi kalau anaknya ada 7 ekor, bukan 6 ekor. Selain itu juga disediakan kardus yang dialasi kain untuk tempat tidur Kitty dan anak-anaknya, agar nyaman sehingga tidak dipindah-pindahkan lagi.

Seperti wajarnya emak kucing yang baru saja melahirkan, si Kitty jadi galak. Saya tidak boleh memegang anak-anaknya. Dia akan menggeram-nggeram dan menyodorkan kaki depannya dengan gaya mengancam kalau saya melihat anak-anaknya terlalu dekat. Waktu saya mengembalikan anak ketiganya yang tertinggal di balik ember pun, dia mengancam saya. Huh…padahal saya beritikhad baik!!

Yang aneh dari anak-anak si Kitty adalah, tidak ada yang berbulu oranye. Bahkan ada yang berbulu hitam. Padahal Kitty berbulu abu-abu. Oh…jangan-jangan Kitty selingkuh dengan kucing hitam buluk milik tetangga depan!! Ternyata Kitty tidak selingkuh. Memang Kitty ini pada akhirnya menikah dengan si hitam buluk, dan mencampakkan si Gantheng. Mungkin karena si Gantheng ini terlalu sombong akan keganthengannya. Atau dengan kata lain sok keganthengan dan banyak lagak.

Nama anak-anak si Kitty adalah “Galang Rambu Anarkhi”, karena tangisan
pertamanya ditandai BBM melambung tinggi.

Maafkan kedua orang tuamu, kalau
tak mampu beli susu
BBM naik tinggi,
susu ‘tak terbeli
Orang pintar tarik subsidi,
anak Kitty kurang gizi

Berhubung anaknya ada 6 ekor, maka namanya adalah Galang Rambu Anarkhi 1, Galang Rambu Anarkhi 2,…Galang Rambu Anarkhi 6. Proses penamaan dilakukan dengan tidak melupakan anak ketiga yang biasanya terlewat saat absensi. Berhubung namanya kepanjangan, ditetapkan juga nama panggilannya, yaitu Puss. Itu tidak masalah. Karena bahkan di dunia manusia pun
Abdurahman Wahid dipanggil Gusdur,
Dani Subagyo
dipanggil Dancuk,
Ruddy
Hariyanto dipanggil Klowor,
Angeline Cinde
dipanggil Tjetjeu,
Herry sugimun
dipanggil Ndokk,
Palupi Kusuma
dipanggil Upil,
Agustina putri
dipanggil Putil,
Iaz Andrianto
dipanggil Titit,
Agnezt Mardha
dipanggil Gendut,
Debora Sandra
dipanggil Gendut,
Nico
dipanggil Gendut,
Abeth
dipanggil Gendut,
Rossa Ayam
dipanggil Gendut,
Maria Kristina
dipanggil Gendut,
Fransiska romana
dipanggil Gendut,
dan Sekararum
dipanggil Cantik.
Hehehe…

Yah…selamat datang di dunia yang semakin susah Galang Rambu Anarkhi 1 sampai dengan 6…

Dilema Halaman Persembahan


Sekararum’s lover, akhirnya. Akhirnya setelah perjuangan yang sangat2 panjang, makan hati, makan harta, dan banyak tetesan air mata, keringat serta darah, saya bisa sedikit bersantai. Saya mulai bisa lagi merencanakan perjalanan jauh, nongkrong2 sepanjang malam, tidur2 sepanjang siang, shoping2 sepanjang uang, dan yang paling penting, ngeblog2 sampai tuaaaa…

Skripsi saya sudah 80% jadi. Yah..tinggal menunggu ACC lah ya.. Yang entah
kapan datangnya karena dosen pembimbing saya tidak menunjukan tanda2
perkembangan mental.

Saya sudah merencanakan keliling-keliling Eropa naik motor dengan telanjang sambil menari hula-hula beramai-ramai. Yah…tidak segila itu dink!

Tapi lagi-lagi, saya kembali dipusingkan oleh bagian tersulit dari penulisan skripsi. Coba tebak, bagian yang lebih sulit daripada pencarian data, pembahasan, dan analisis data skripsi? Yup..halaman persembahan! Halaman persembahan merupakan selembar halaman pada skripsi yang khusus ditujukan untuk mengucapkan terimakasih kepada orang-orang di belakang layar pembuatan skripsi.

Masalah pertama adalah pada jumlah halaman. Biasanya, halaman persembahan ini hanya berjumlah satu halaman. Atau mentok2nya, dua halaman lah. Ini
menjadi masalah untuk orang se oke saya, yang bahkan dalam pengerjaan
skripsipun, banyak sekali yang ingin membantu saya. Yah..walaupun mereka2 itu hanya berhenti pada level “ingin”. Tapi yang penting khan niatnya. Dan niat yang baik tentu harus di balas dengan baik.

Secara etika, Jesus Christ, MoM, DaD, pacwar, dosen pembimbing, dosen penguji, dan kaprodi adalah nama2 yang harus ada pada baris teratas halaman persembahan. Namun pada kenyataannya, kebanyakan para thesis writer adalah penghujat Tuhan (haha..). Apalagi untuk kasus skripsi yang pengerjaannya lama seperti skripsi saya. Padahal apabila kita tidak mencantumkan nama itu, kita bisa di atheis-atheiskan. Lalu kebanyakan juga, dosen pembimbing, dosen penguji, kaprodi, dan segala birokrat2 pendidikan itu malahan merupakan penghambat dari kemajuan skripsi.

Belum lagi soal pacar. Yah..kebetulan sekali sih, pacar saya adalah pacar yang sangat gantheng dan berbudi luhur, yang selalu dan sebisa mungkin menyuport saya baik secara material maupun spiritual dalam pengerjaan skripsi saya. “Terimakasih oh pacar, jasamu sungguh tak terhingga…”. Namun saya juga menemui kasus pacar yang menghambat skripsi. Teman saya, sebut saja Clarissa Madiana bukan nama sebenarnya (haha..) mempunyai seorang pacar yang tidak segantheng pacar saya. Pacar si Risa ini, sudah tidak gantheng, merepotkan pula. Tidak sabar dalam mendengarkan segala keluh kesah Risa mengenai skripsinya, tidak mau mengerti tentang kelelahan Risa dalam
mengerjakan skripsi, tidak membantu sama sekali dalam pengerjaan skripsi, selalu menuntut waktu dan perhatian berlebih, dll dll. Seperti halnya saya, pengerjaan skripsi kawan Risa telah sampailah pada halaman persembahan. Dan dilema mulai merambah hatinya. Pacarnya ini bukanlah orang yang patut diterimakasihi dalam hal pengerjaan skripsi. Tapi menurut etika, nama pacar harus tercantum dalam halaman persembahan pada baris yang lumayan atas. “Special tanks to mas Pacar, atas segala suport, perhatian, dan kasih sayangnya pada saya. Cup cup Muach… I luph u, honey… Bloody luph”. Yah kira2 seperti
itu lah… Bingung sekali kawan Risa ini.

Lalu permasalahan saya adalah Tjeu. Iya, tjeu-saya yang sudah saya anggap

pacar saja itu. Tjeu itu, dikala teman2 semacam saya dan Agnezt dihadapkan pada kenyataan skripsi yang begitu kedjam, dia malah melarikan diri. Memilih berkarir diJakarta yang katanya sih demi penghidupan yang lebih layak, namun saya yakin itu semua demi melarikan diri dari kegilaan para penulis skripsi. Sungguh bermental bejad dan tidak bertanggung jawab. Saya hujat. HUJAAATTT!!! Dan untuk mengurangi rasa bersalahnya, dia mencoba menawarkan pada saya untuk membelikan saya cartride printer. Padahal yang saya butuhkan saat ini adalah sebuah Villa di daerah plateau untuk melepas penat. Tapi dia tetap bersikukuh bahwa yang saya butuhkan adalah cartride printer.

Sungguh terlalu!

Demikian pula dengan si Gendut Agnezt yang sudah saya anggap saudara, dan Dani yang sudah saya anggap pembantu itu. Merekapun hanya bisa mencela-cela saja soal skripsi saya. Tidak ada setitikpun niatan baik untuk sekedar membelikan saya laptop baru yang lebih canggih dan ringan agar saya lebih bersemangat mengerjakan skripsi.

Sementara Dancyuk melarikan diri ke Surabaya, Si Gendut Agnezt dengan tidak
tahu dirinya, bukannya mendukung pengerjaan skripsi saya, malahan mendesign kebaya untuk wisuda. Dia sudah mendesign kebaya ala Julia Perez yang banyak ventilasinya agar tidak telalu kepanasan saat wisudaan nanti.

Lalu kembali lagi kepada permasalahan orang oke. Saya, seperti halnya orang oke-orang oke lain di dunia ini, saya mengalami kebingungan untuk memilih mana kawan yang cukup oke untuk di tulis pada halaman persembahan sehingga bisa meningkatkan ke oke-an skripsi saya, dan mana teman yang harus masuk dalam kategori “dan lain-lain”. Ada teman menggereja semata wayang, yaitu sukloworwor. Teman seperjuangan, sepermainan, sepertongkrongan, sepermabukan, seperkos-kosan, sepergilaan, dan juga teman berdiskusi, yang masing2 jumlahnya puluhan ribu. OMG!!! Saya benar-benar binggung.

Yang jelas-jelas tanpa pikir panjang akan ditulis oleh penulis skripsi dalam halaman persembahan adalah nama orang tua, yang telah membiayai hidup, kuliah, dan skripsi kita. Yang walau seandainyapun tidak membiayai kuliah dan skripsi kita, paling tidak telah rela membuat kita, dan memberi kita makanan yang bergizi sehingga kita bisa sampai pada bangku kuliah.

Sempat juga terpikir oleh saya untuk meniadakan halaman persembahan. Jadi
saya otomatis tidak akan terbebani oleh kewajiban mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang tidak perlu diterimakasihi. Tapi saya tidak siap menanggung resiko, di cap sebagai sarjana yang tidak tahu terimakasih. Gawat sekali bukan?! Bisa-bisa saya diusir dari Jogja dengan tidak hormat.

Klowor memberi ide pada saya untuk menggunakan sistem random sampling.
Menaruh nama-nama dalam sebuah kotak. Lalu kita ambil secara acak sejumlah sepuluh sampai lima belas nama. Sepuluh sampai limabelas nama yang terambil merupakan nama-nama yang akan tercantum dalam halaman persembahan skripsi saya. Tapi masalahnya, resiko nama Jesus Christ, Mum, Dad, pacwar, dan para dosen untuk tidak terambil akan sangat besar. Dan itu bahaya sekali karena menyalahi etika.

Produk Kecantikan Yang Semakin Tidak Tahu Malu


Baru-baru ini, tjeu (yang belakangan hoby sekali shoping via internet) menawari saya untuk membeli BIOGLO CHERRY PINK, nipple cream. Itu adalah sejenis produk kecantikan yang berfungsi intuk memerahkan nipple. Ehm..tau khan nipple? Nipple itu lhoh, puting susu. Cara pakainya mudah. Tinggal dioleskan saja ke puting susu kita secara teratur setiap hari sesudah mandi. Setelah jangka waktu tertentu (3 bulan ya, tjeu?), puting susu kita akan memerah (atau menge-pink) dengan sendirinya.

Atas bujuk rayu tjeu, akhirnya saya membeli produk itu. Tjeu bilang, “itu bisa dipakai untuk memerahkan bibir juga tjeu… Kaya lipgloss githu!! Cuma ini bisa bikin bibir merah alami.”

Hmm..ya..saya memang tidak mempunyai masalah dengan warna nipple saya. Tapi saya sering bermasalah dengan warna bibir saya. Bibir saya ini, walaupun sudah cukup sexy, tapi pinggirnya berwarna kehitam-hitaman. Ya..saya tetap cantik sih, dengan warna bibir apapun. Tapi yang jadi masalah adalah, orang-orang sering menuduh saya merokok. Padahal saya tidak merokok! Hanya warna bibir saya yang seperti warna bibir perokok. Mending kalau orangnya bertanya, “Kamu merokok, ya?” Saya gampang saja bilang, “tentu tidak!” Tapi biasanya orang-orang itu menyimpulkan sendiri. Lalu kesimpulan sepihak mereka itu akan mereka jadikan obrolan sambil lalu pada orang-orang lain, dan tersebarlah kabar burung bahwa saya merokok. Ohh…fitnah itu kedjam, Jendral!! Sekedjam skripsi!!

Yah..saya bukannya mau membahas soal cara pemakaian nipple crem ataupun warna bibir saya. Apalagi mengenai warna nipple saya! Saya hanya bertanya-tanya saja, atas dasar pemikiran apa produk pemerah puting susu ini diciptakan.

Pemikiran ini tercetus dari mulut teman saya, Putil. Suatu siang, saya makan bersama Putil di warung Lotek colombo. Saya cerita-cerita saja, kalau saya baru saja membeli nipple cream, yang akan saya pergunakan untuk memerahkan bibir saya. Si Putil ini tercengang-cengng. Bagaimana bisa ada produk pemerah nipple? Mainstream apa yang mendasari terciptanya produk itu? “Wah..produk kecantikan jaman sekarang semakin tidak tahu malu ya?”

Dan obrolan tidak penting itu terbawa terus dalam benak saya.

Produk pemutih kulit misalnya, tercipta karena ada anggapan bahwa kulit putih itu cantik dan terlihat bersih. Produk tanning lotion, atau pencoklat kulit. Tercipta krena anggapan orang-orang barat yang berkulit pucat, bahwa kulit coklat terbakar mtahari itu tampak sehat dan sexy. Lalu produk pelangsing. Sudah bisa di tebak khan? Dengan kehadiran fotomodel-fotomodel, bintang film, dan boneka barbie, yang kesemuanya seakan mengatakan bahwa langsing itu indah, langsing itu sexy?

Lalu bagaimana dengan produk pemerah nipple?

Saya kok belum pernah menemukan anggapan bahwa nipple yang merah itu sexy. Atau nipple yang merah itu tampak sehat, atau cantik, atau apalah… Dan tidak seperti bibir, atau perut, atau warna kulit. Nipple jelas-jelas bukan sesuatu yang bisa kita tunjukan kepada orang-orang. Dimana-mana (emm…suku-suku pedalaman tertentu terkecuali), nipple itu harus ditutupi. Bukan konsumsi publik. Bahkan di pantai saat kita berbikini super minim pun, nipple teteup ditutup khan? Walaupun saat kita memakai baju yang menonjolkan belahan dada kita pun, nipple tetap kita tutup khan?

Lalu apa gunanya kalau nipple kita terlihat lebih cantik?

What thing(s) I do before I die


Andaikata temen saya ternyata naksir berat sama pacar saya yang paling gantheng sejagad raya. Teman-saya-yang-naksir-berat-sama-pacar-saya-yang-paling-gantheng-sejagad-raya itu lalu menyusun strategi untuk membunuh saya.

Pada suatu malam, dia minta izin untuk menginap di kos saya. Saya yang baik hati dan tidak berprasangka tentu saja mengizinkan. Saat saya tidur, dia menyuntikan racun yang bisa membunuh manusia tanpa rasa sakit, dalam waktu 120 jam. Dan ketika pagi datang dan saya bangun, teman saya itu tertawa seperti layaknya psikopat kejam pembunuh teman yang pacarnya paling gantheng sejagad. “Ho ho ho…aku telah meracunimu. Ho ho ho…percuma punya wajah secantik kamu kalau 5 hari lagi kamu akan mati. MATI. Catet ya! MATI!! Yeuk..”

“Oh…tidaaaak!!!!”

Saya akan menutup muka saya dengan tampang terkejut tapi tetap cantik.

Oke… Omongan teman-saya-yang-naksir-berat-sama-pacar-saya-yang-paling-gantheng-sejagad-raya itu ada benarnya juga. Bahwa tidak penting untuk membicarakan kecantikan saya secara hidup saya tinggal 120 jam, atau 7200 menit. Saya harus menggunakan menit-menit terakhir hidup saya untuk melakukan sesuatu yang berguna. Dan membicarakan kecantikan saya bukanlah sesuatu hal yang berguna, karena tanpa dibicarakan pun semua orang pasti tahu saya ini cantek sekaleee…

Saat itu, karena saya baru saja bangun tidur, (dalam imajinasi liar saya) adalah pagi-pagi buta jam 10. Oke, untuk melengkapi imajinasi saya, ini adalah hari senin. Jadi hari senin jam 10 pagi. Yang berarti, pada hari sabtu jam 10 pagi saya mati, seperti kata teman-saya-yang-naksir-berat-sama-pacar-saya-yang-paling-gantheng-sejagad-raya “MATI.! Catet ya! MATI!! Yeuk..”

Saya langsung teringat, kalau orang yang mau mati itu biasanya minta-minta maaf pada semua orang yang pernah di buatnya menderita. Mmmm…masalahnya, orang yang saya buat menderita itu ada buanyak sekaleee… Baik yang secara nggak langsung (seperti orang-orang yang iri pada kecantikan saya, atau orang-orang yang naksir pacar saya yang paling gantheng sejagad misalnya..), ataupun secara langsung (yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada orang yang saya buat menderita secara nggak langsung). Padahal waktu saya tinggal 120 jam. Jadi, saya nggak mungkin melakukan ini.

Lalu saya teringat mimpi-mimpi saya.

1.Main film bareng Jhony Deep
Walaupun saya cantik, baik hati, dan sangat berbakat, saya rasa lebih mudah bila seorang Ade Ray masuk ke lubang jarum dari pada saya menembus birokrasi holywood dalam waktu lima hari.

2.Lulus
Argh!@#$%^&* sementara penelitian skripsi saya masih dalam proses tahap awal dan dosen pembimbing skripsi saya sedang menggila, saya rasa menembus birokrasi Hollywood bahkan jauh lebih mudah daripada lulus dalam waktu lima hari.

3.Menikah
Yah…pacar saya belum tentu siap. Belum lagi keluarganya dan keluarga pacar saya, karena menikah tanpa restu orang tua, bahkan bila kita mau mati pun, adalah DOUSA BESAR!! Lalu seandainya pasar saya mau dan rela menikahi saya, masa saya tega meninggalkannya sebagai duda miskin tanpa anak? Bah!!

4.Bercinta di atas pasir di tepi pantai yang sepi di bawah temaram cahaya bulan
Bahkan untuk melakukannya saya harus menikah terlebih dahulu, dan untuk itu harus melewati kesulitan-kesulitan nomor (3), lengkap dengan kata “Bah!!”.

5.Melakukan dosa kecil-kecilan seperti merampok bank atau memakan janin
Pertama, saya tidak punya keahlian membobol brankas. Dan kedua, kata Doni teman saya, Janin itu rasanya nggak enak. Lebih nggak enak dari pada sosis sapi dan acar ketimun.

6.Menemui Raam Punjabi dan menceramahinya soal tayangan sinetron yang realistis dan mendidik
Saya bahkan tidak tau om Raam itu tinggal dimana dan bentuknya seperti apa!!!! *mulai histeris!! Bahkan lebih histeris daripada saat saya pertama kali tahu umur saya tinggal 5 hari*

7.Menghentikan peperangan dan mengatasi kelaparan di muka bumi
Satu-satunya jalan yang paling mungkin untuk saya lakukan adalah memenangkan kontes miss Universe. Tapi masalahnya, karantina calon miss universe memakan waktu lebih dari lima hari!

AAAAWWWWWWW!!!!!

Saya mulai frustasi, jongkok sambil memegangi kepala *pose frustasi ala sinetron Indonesia*. Hidup saya tinggal sebentar, dan tidak ada satupun impian saya yang bisa terwujud. Sementara hari mulai siang dan waktu yang berharga itu saya habiskan HANYA untuk berpikir dan bukannya Do something or go to somewhere.

NAH YADA YADA YADA!!!

GO TO SOMEWHERE!!!

Kok bisa-bisanya ditengah sakratul maut saya melupakan obsesi saya yang paling besar?! Akh…pasti ini pengaruh dari racun yang disuntikan oleh teman-saya-yang-naksir-berat-sama-pacar-saya-yang-paling-gantheng-sejagad-raya. Yaitu…

8.KELILING DUNIA!!!
Menjelajahi seluruh pelosok dunia. Menikmati panorama alam dan melihat berbagai budaya.

Matamu!! Memangnya keliling dunia nggak pakai duit!! “Duit bisa dicari, dude”. Iya, tapi mencari duit untuk keliling dunia itu nggak cukup waktu lima eh empat setengah hari. Dan keliling dunia juga nggak cukup waktu lima hari!!

Yah…terpaksa saya merevisi mimpi saya tersebut, agar sesuai dengan anggaran yang ada dan lebih realistis. Untung jaman bahulak dulu saya sudah terbiasa mrevisi proposal agar sesuai dengan anggaran minim dan pemikiran sempit rektorat. Aha!!!

Tidak mungkin dengan tabungan saya, saya keliling dunia. Tapi masih mungkin untuk pergi ke suatu Negara yang jauh dan dengan kondisi alam dan budaya yang sangat berbeda dari Indonesia. Lalu hidup minimalis selama empat hari disana. Tidak perlu memikirkan tiket pulang ke Indonesia karena toh saya akan berpulang juga sehingga tidak perlu pulang.

Haha.. HA HA HA!!!!

Saya segera membereskan koper. Ah…pulang ke Solo dulu ambil paspor di rumah. Lalu pergi ke rumah sakit untuk mencium ibu saya yang sedang bekerja. Lalu pergi ke bank untuk mencairkan tabungan saya yang oh..sedikit sekali dan mencium bapak saya yang bekerja di bank juga (sungguh efisien). Lalu ke Jakarta. Ke kantor pacar saya, memaksa masuk bagaimanapun caranya dan mencium pacar saya untuk yang terakhir kalinya.

Lalu pergi…

Ups, kenapa saya tidak mengajak pacar saya saja?

Saya kembali lagi ke kantor pacar saya. Menjelaskan dengan singkat bahwa saya akan mati dalam waktu kurang dari 5 hari. Dan memintanya membuktikan cintanya dengan cara membobol tabungannya dan mengikuti saya ke…uuummmm…ke…eh…mana ya? Yah suatu Negara di benua Eropa atau Afrika lah!

Lalu kami naik taksi ke bandara. Terjebak macet seperti sewajarnya perjalanan di Jakarta pada siang hari yang cerah. Dan ini adalah percakapan singkat saya dengan sang sopir taksi.
Sopir taxi : “Mau kemana, mbak?”
Saya : “Bandara!”
Sopir taxi : “Iya saya tahu. Maksud saya, mau kemana kok ke bandara?”
Saya : “Entahlah. Saya sebentar lagi mati dan kepingin keliling dunia, pak!”
Sopir taxi : *menghela napas ala orang-orang bijak di sinetron Indonesia* “Anda ngak perlu keliling dunia kalau mau mati. Anda seharusnya melakukan hal-hal baik biar masuk surga. Dan anda nggak perlu keliling dunia untuk melakukan hal-hal baik, karena seluruh dunia ini adalah tempat yang buruk. Setiap kota sama saja. Jakarta maupun Calcuta sama-sama punya McD. Sama-sama punya derita.”

Bleh!!!

Bahkan mau matipun saya sial sekali, naik taksi yang sopirnya lebay dan pesimistis soal dunia! Terserahlah. Saya tetap kepingin keliling dunia. Tujuan saya khan bukan kepingin berbuat baik! Saya khan bukan orang baik. ANDA, tau itu khan?

Oh iya, saya juga akan menambah romantis suasana dengan mengatakan suatu hal yang paa situasi khusus tidak bisa saya ungkapkan kepadanya. Oh shit!! Saya lupa saya ini ember bocor kalau sama dia. Jadi saya sudah tidak punya rahasia.

Padahal akan keren sekali seandainya tiba-tiba saya bilang bahwa saya sebenarnya sudah punya anak yang sebentar lagi akan masuk SD, atau bahwa saya sebenarnya adalah ultramen taro.

Oh…seandainya saya punya anak yang sebentar lagi mau masuk SD, atau seandainya saya adalah ultramen taro. Saya baru menyadari, bahwa selama ini hidup saya datar-datar saja. Tidak ada anak yang sebentar lagi mau masuk SD ataupun ultramen taro.

Ah ah…

Mimpi memang tanpa batas!

REAAAAAAAALLLLLLY HOTT & CUTE!!!!!!!!


1. WHAT COLOR HAIR DO YOU HAVE?
[X]Brown
[ ]Red
[ ]blond
[ ]Black
[ ]other

2. OUT ON A DATE WOULD YOU WANT TO:
[ ]Go to a party
[x]Go out to eat

3. WHAT IS YOUR FAVORITE COLOR OUT OF:
[ ]Baby-Pink
[ ]Yellow
[ ]baby blue
[X]Turquoise

4. PICK YOUR FAVORITE HOBBY OUT OF:
[ ]Talking
[X]Singing
[ ]Taking long walks

5. IF YOU COULD PICK A STORE OUT OF THE FOLLOWING, WHICH WOULD IT BE?
x ]Hollister
[ ]Old Navy
[ ]Aeropostale

6. WHAT IS YOUR FAVORITE PLACE
OUT OF THE FOLLOWING?
[X]Hawaii
[ ]London
[ ]Florida

7. IN THE SUMMER WOULD YOU
RATHER GO TO:
[x]The Beach
[ ]Somewhere Cooler

8. WHAT IS YOUR BIRTHDAY MONTH?
[ ]January
[ ]February
[ ]March
[X]April
[ ]May
[ ]June
[ ]July
[ ]August
[ ]September
[ ]October
[ ]November
[ ]December

9. WOULD YOU RATHER:
[ ]Chill at home
[x]Go out with friends

10. WHAT IS YOUR FAVORITE
INSTRUMENT OUT OF:
[X]guitar
[ ]Bass guitar
[ ]Drums
[ ]The Triangle

****************************************************

**ANSWERS**
1 .
a. brown= sexy [5points] *
b. red = smart [2 points]
c. blonde = playful [4 points]
d. black= caring [3 points]
e. other = wild [5 points]

2.
a. go to a party = playful [2 points]
b. go out to eat = romantic [5 points] *
3.
a. baby-pink = cute [2]
b. yellow = loud [3]
c. baby-blue = cool [5]
d. turquoise = sexy [5] *

4.
a. Talking = active [2]
b. Singing = determined [2] *
c. Taking Long Walks = daring [5]

5.
a. Hollister = tasteful [7] *
b. Old Navy= laid back [2]
c. Areopostale= stylish [5]

6.
a. hawaii = you like being around people [2] *
b. London You are quiet, and like the cold [4]
c. florida = You like to party! [5]

7.
a. beach = tan, likes the sun [5] *
b. somewhere cooler = pale and original [2]

8.
a. January = popular [5]
b. February = lovely [5]
c. March = rebellious [5]
d. April = the person everyone loves!!! [5] *
e. May = happy [5]
f. june = chills a lot [5]
g. July = Adorable [4]
h. August = ballin [5]
i. September = quiet [2]
j. October = out-going [3]
k. November = pimpin it [5]
l. December = warm [5]

9.
a. home = quiet, romantic [3]
b. go out with friends =crazy [5] *

10.
a. guitar = cool [3] *
b. bass-guitar = mellow [2]
c. Drums = crazy [5]
d. Triangle = simple [2]

SCORES!!! !
UP TO 17= LOUSY GET A LIFE MAN
18-20= OKAY
21-35= Rather Cute!
36+ =REAAAAAAAALLLLLLY HOTT & CUTE!!!!!!!! !!!

My score = 5 (sexy) + 5 (romantic) + 5 (sexy) + 2 (determined) + 7 (tasteful) + 2 (like being around people) + 5 (tan) + 5 (the person everyone loves!!) + 5 (crazy) + 3 (cool)

== 44!!!

36+ =REAAAAAAAALLLLLLY HOTT & CUTE!!!!!!!! !!!

Hwaaaaaaaahahahahahhh…

Jalan kita masih panjang


Menjawab pergumulan batin Tjeu yang tidak habis-habisnya soal menikah dan dinikahi…

Usia saya masih 21. Yah…tinggal hitungan hari untuk menuju 22. Menurut saya, saya masih sangat muda sekali. Masih terlalu muda untuk dinikahi.

Kalau saya sadar saya terlalu muda untuk menikah, lalu mengapa saya memikirkan pernikahan pada hari ini? Atau minimal, mengepost blog tentang pernikahan lah?!

Pikiran-pikiran tentang pernikahan ini sudah lama bersliweran di benak saya. Selagi saya masih sibuk bergelut dengan skripsi, menyanyi di sana-sini, memenuhi hasrat bershoping-shoping dan juga masih suka mendadak berada di awang-awang bersama mimpi saya untuk keliling dunia; undangan-undangan pernikahan mulai berdatangan.

Seorang tentangga slash kawan SD slash bunga desa di kampung saya, Dian, menikah. Dia seumuran dengan saya. Yah…satu tahun diatas saya lah, secara saya memang lebih muda setahun dari rata-rata teman seangkatan saya. Oke. Mungkin memang sudah jalannya. Lalu di susul oleh Wiyati, Ningsih, Amy, Lies, dan Wulan yang semuanya adalah kawan SD seangkatan saya. Dan gebrakan datang dari Tri Wahyudi, teman SD saya juga. Yah…saya pikir yang menikah cepat adalah kawan-kawan perempuan saya saja, mungkin karena hamil duluan, atau karena pacarnya sudah tua dan mapan. Tapi ini, kawan laki-laki saya. Yang gantheng. Dan pacarnya tidak hamil pula. Yaaa…terkejut saya!

Lalu Fania, teman SMP saya. Sejak SMP dia memang sudah menunjukan kecenderungan untuk kawin muda. Bukannya dia punya perilaku sexual yang agresif (??), tapi karena bahkan sejak SMP dia sudah punya jiwa seperti emak-emak, atau bahasa kerennya: keibuan.

Lalu teman-teman SMU, Iin, Isa, dan yang terakhir, yang bikin saya hampir mati berdiri, adalah telephon dari sahabat dekat saya, Elly. “Miiiiiiiissssss, aku dilamar!!!!!!!!”

Elly oh…Elly…
Syok saya dengarnya
Saya sudah bersama-sama dengannya sejak SMP. Sangat dekat, dan berbagi segalanya. Saya melakukan banyak kesenangan dan kebejatan masa muda dari yang wajar-wajar saja sampai yang tidak masuk akal bersama dengannya. Sementara saya belum puas mencicipi dunia, Elly sudah mau mengikat diri dalam pernikahan!! Oh oh…bagaimana dengan mimpi kita untuk berphoto-photo di seluruh pelosok dunia, main film bareng Brad Pitt, dan Bacardi Lime yang setia menunggu setiap sabtu??

Yah…sudah lah. Memang sudah begitu jalannya, dan semoga berbahagia…

Lalu sahabat saya yang lain lagi, di Mudika, Eric. Si tomboy yang kelewat mandiri. Mendadak menikah, dengan alasan pacarnya sudah terlalu tua untuk menunggu lebih lama. Dan dia menceritakan itu dengan sewajarnya wajar wajarnya, seolah-olah memang dia sudah sejak lama merencanakan untuk menikah di usia 22.

Lalu tahun lalu, seorang kawan seangkatan saya di kampus, Sandra, juga memutuskan untuk menikah setelah suaminya lulus s2. Bahkan sebelum dia menyelesaikan skripsinya. Saya masih ingat waktu itu. Kami rombongan dari joga, beramai-ramai dengan dua mobil, datang ke Cilacap untuk kondangan Nico-Sandra. Saya, Dani, Pacar saya (yang waktu itu belum jadi pacar saya dan kondangan ini merupakan awal pertemuan kami), Titit, dan Gendut satu mobil berangkat dua hari sebelum kondangan. Lalu disusul Daniel, Tjeu, Ndokk, Herman, Ananta, Seno, Dwi yang berangkat pas hari H.

Baru-baru ini saya makan mie goreng telur di kantin kampus bersama dengan Ully dan Rina. Sambil ngerumpi-ngerumpi, bergosip jahat, dan bergosip asoy… Dan di tengah obrolan basi soal masker rambut, tercetuslah sebuah pengakuan tak sengaja dari si cantik Rina, “rambut aku memang mulai rontok setelah melahirkan.” awalnya saya mengira kalau dia tidak benar-benar melahirkan. Seperti halnya saya yang selalu mengeluh kalau saya ‘keguguran’ setiap saya mendapatkan menstruasi. Tapi kemudian obrolan beralih ke soal susu anak, dan susu dari tetek ibu. harga susu yang melambung tinggi, cara-cara memeras susu ibu (aiiihhh…), dan cicin pernikahan. Barulah saya sadar kalau dia benar-benar melahirkan dalam artian yang sebenarnya. “Genduuutt, pliz deh! Memangnya kamu kira aku cuti setahun karena belibur? Memangnya kamu, bolos dua minggu demi liburan ke Bali?” (apakah perlu untuk membuka aib saya tersebut, ya?)

Hwaaaahahahahh…. Saya merasa bodoh sekali.

Lalu obrolan berlanjut. “Tapi cincin ini beda sama punya Lia.” Hwaaaaaaaaaaa!!!! Saya hampir terjatuh dari kursi kantin yang saya duduki. Lia? Fyi: Lia itu teman seangkatan saya yang juga tadinya ikutan nongkrong bersama kami tapi mendadak pergi karena ada urusan penting. “Dan beda juga dari punya Mitha.” MITHA??? Hah sudahlah!!!

Saya tak sanggup mendengar lebih jauh! Begitu banyak teman seumuran saya yang sudah menikah dan beranak pinak. Sementara saya? Bahkan saya masih punya keinginan untuk S2, lalu keliling dunia.

Malamnya ketika pacar saya telephon, saya bercerita kepadanya tentang pernikahan. Tentang kegundahan saya. Apakah saya ini nggak normal karena belum memikirkan pernikahan, rasanya masih jauuuuhh sekali, padahal saya sudah punya pacar yang sangat saya cintai dan mencintai saya? Pacar saya bilang, “jalan kita masih panjang.” Mungkin empat atau lima tahun lagi, kita akan menikah. Hmmm…”kalau aku maunya sekarang?” Dan pacar saya menjawab, “Boleh. Kalau kamu mau makan tempe setiap hari!”

Mungkin itu masalahnya ya? Beberapa orang menganggap kemapanan itu penting, dan beberapa orang menganggap cinta itu yang terpenting. Saya dan pacar saya termasuk yang akan bilang, “memangnya kita mau makan cinta?!”

Bukannya saya bilang cinta itu tidak penting. Itu pentiiiiiiing sekali. Saya sudah ketemu dengan orang yang saya cintai. Lalu kita berdua sama-sama mengejar mimpi, ‘noto urip’, baru setelah itu bisa bicara soal pernikahan.

Realistis bukan?

Jalan kita masih panjang
Masih ada waktu tersisa
Coba kuatkan dirimu
Jangan berhenti disini
Beri satu kesempatan
Cinta suci berbicara
Waktu ‘kan mengilhami
Kedewasaan hatimu

Masih banyak yang mau saya capai dan saya perjuangkan. Masih banyak mimpi-mimpi saya yang belum terbeli. Masih banyak orang-orang yang saya cintai yang ingin saya bahagiakan. Sebelum saya kelak akan mengikat diri hanya padanya… (halah!!)

Tjeu, gimana Tjeu? Masih cemburu dan kepingin kawin??

Mahalnya jadi wanita


Menanggapi shoping via internet….

HWAAAA….BARANGNYA LUTJU-LUTJU SEKALEEE…..

Oh tidak. TIDAAAKKK!!! Saya tidak mau seperti Tjeu, yang terjebak dalam kenikmatan sesaat berbelanja via internet! Saya memang baru saja membuka web milik sebuah butik di Jakarta. Saya membukanya pun atas rekomendasi teman saya. Jadi ceritanya teman saya punya butik di Bali. Dia menjual barang-barang fashion yang bertema etnik, dengan mutu internasional. Wuahh…saya sih tertarik. Tapi mahal sekaleee buanget!!! Teman saya sudah memberikan diskon sebesar 30% dan juga sudah meniadakan ongkos kirim. Tapi tetap saja harga-harganya tidak terjangkau oleh kantong saya. Bayangkan saja, sepasang sepatu flat motif etnik bahan kanvas dihargai sekitar delapan ratus ribu jika dirupiahkan saat ini. Coba bandingkan dengan sepatu baru saya, yang kemaren baru saja saya beli dari ongkos hasil menyanyi saya. Sepatu saya berbahan kulit san berharga HANYA seratus tiga puluh juta eh…ribu maksud saya.

Tapi yang saya taksir mati-matian di butik teman saya itu bukan sepatu. Yang saya taksir adalah kaos tunik. Warnanya coklat ada bordirnya di bawah, lehernya rendah, bahannya adem, pokoknya sangat saya sekali… Sangat cocok dipakai kondangan. Saya punya firasat kalau sebentar lagi seorang teman dekat saya bakalan ada yang merit, dan firasat saya sering tepat. Saya benar-benar terngiler-ngiler dibuatnya (tunik, bukan merit). Tapi kalau saya beli, saya bisa tidak makan sebulan.

Setelah menawarkan berbagai potongan, meniadakan pajak dan ongkos kirim, teman saya akhirnya menemui jalan buntu. Segera saja teman saya menyadari kalau saya kere sekali. Hwahahahah… Ya iya lah… Mahasiswa je… Apa yang bisa diharapkan para pemilik butik internasional dari seorang mahasiswa dengan uang saku pas-pasan, hah?

Lalu teman saya yang baik hati itu memberi alternatif kepada saya untuk berbelanja di butik milik kenalannya di Jakarta. Via internet. Barang-barangnya hampir mirip dengan yang dijual oleh teman saya yang di Bali, tapi dengan mutu dibawahnya, dan harga yang jauuuuhh dibawahnya. Yaa…harganya mulai rasional.

Seharusnya saya bersenang hati dan segera order khan ya? Tapi mendadak saya teringan Tjetjeu… Dia ketagihan berbelanja via internet seperti ini, karena dia memang tidak ada waktu untuk berjalan-jalan ke mall. Dan berbelanja dengan cara seperti ini bener-bener bikin nagih. Saya tidak mau ketagihan dong ya… Apalagi, menurut saya sih, akan lebih puas bila saya berbelanja di toko beneran, bukan toko maya. Barang yang akan saya beli bisa saya sentuh, saya raba, saya coba. Soalnya seringkali saya ini tertarik sama suatu baju di etalase butik. Namun setelah saya coba, ternyata baju itu hanya indah di pajang, tapi tidak indah bila dilekatkan di badan saya.

Yah…saya pikir sih, selagi saya masih punya waktu, lebih baik saya puas-puaskan berbelanja di dunia nyata. Tapi untuk berbelanja di dunia nyata pun saya masih pikir-pikir lagi ternyata.

Lalu saya teringat juga dengan bisnis persewaan tas branded. Itu bisnis yang umurnya masih cukup baru di Indonesia, tapi yah…prospektif lah!! Itu menjawab kebutuhan wanita Indonesia yang cekak duit tapi banyak lagak. Untuk baju A, harus pake tas yang B. Lalu kalau pakai baju C, ya harus pakai tas yang sesuai juga dong ah! Nah…para calon suami, tidak terbayang khan bagaimana kelak menghidupi istri kalian? Kalau beli baju, harus beserta tas dan sepatunya. Apalagi ibu-ibu jama sekarang doyan sekali shoping. Kalai sudah jadwalnya shoping tidak keturutan, bisa-bisa mual-mual, pusing, susah tidur, muntah-muntah hebat, mood terhadap apapun menurun drastis dan kemudia berakibat pada kemandulan. Hwaaaahahahahh…

Ya untuk menjawab persoalan semacam itulah, bisnis persewaan tas branded berdiri. Biar wanita-wanita Indonesia tetap produktif dan tidak mandul. Harga tas itu lumayan mahal lhoh. Dari lima puluh ribu sampai dengan lima puluh juta rupiah!! Kalau sewa, biasanya hanya perlu membayar sepuluh persen dari harga beli, untuk jangka waktu tertentu. Tas yang rata-rata dipakai oleh cewek-cewek seumuran saya, harganya berkisar antara seratus lima puluh ribu sampai empat ratus ribuan. Dan kalau saya lihat, ceweq-ceweq di kampus saya itu hobi sekali berganti tas. Lumayan mengirit sekali khan, kalau bisa menyewa tas?!

Tapi bisnis ini juga masih dalam taraf berkembang. Belum boom sekali. Itu karena wanita Indonesia yang gaptek dan gengsinya selangit. Ya pertama, bisnis ini biasanya tidak memiliki showroom. Pemesanan barang yang akan di sewa bisa dilakukan via internet. Yang jadi masalah disini, ibu-ibu dan mbak-mbak dandan di Indonesia biasanya tidak ‘melek’ teknologi. Belum begitu gape internetan. Dan yang kedua, gengsi dong yaaaa, kalau kondangan, terus entah bagaimana ketahuan kalau tas tangan kulit buaya seharga lima juta nya itu ternyata cuma nyewa???

Yaaahhh…begitulah realitanya.

Oh…tidak. Saya tidak tertarik untuk menyewa tas. Apalagi untuk mendirikan perusahaan penyewaan tas. Lha wong tas saya saja cuma satu biji. Sudah buluk dan sama sekali tidak branded. Saya cuma berpikir-pikir saja. Di asumsikan saja para wanita itu berbelanja baju dua minggu sekali, dan tas sebulan sekali. Misalkan bajunya seharga tujuh puluh ribu, dan tas seratus ribu (saya cari harga normal saja). Berarti dalam sebulan mereka masing-masing mengeluarkan uang sebesar dua ratus empat puluh ribu!! Belum bila mereka kepingin sepatu, sendal, cardigan, celana panjang, syal, topi, kaca mata hitam, atau apalah. Jadi saya hitung saja tiga ratus ribu untuk berbelanja barang-barang fashion.

Lalu make-up. Menurut seorang teman saya, yang melakukan perawatan wanita standar (tidak terlalu wah), dia menghabiskan sekitar seratus ribu per bulan untuk membeli produk-produk kecantikan seperti lotion, scrub, sabun, shampo dan conditioner, bedak, pembersih muka, pelembab, lipbalm, dan lain-lain. Dan tiga bulan sekali dia membeli parfum seharga tiga ratus ribu. Jadi kalau dirata-rata untuk parfum perbulan seratus ribu.

Biaya ke salon dua minggu sekali, yang berarti sebulan sekali sekitar empat puyluh ribu. Jadi sebulan delapan puluh ribu.

Jadi dalam sebulan, untuk mempercantik diri, dia mengeluarkan uang sebesar lima ratus delapan puluh ribu rupiah (Rp 300rb + Rp 200rb + Rp 80rb). Padahal uang sakunya sebesar satu juta rupiah perbilan. Jadi, pengeluaran untuk kecantikan adalah sebesar 58% dari pemasukannya. Wuaaahhh…!!! Sisanya digunakan untuk makan, pulsa, bensin, nonton, fotokopi, beli buku, ngenet dll dll dll.

Coba kalau dia tidak membeli baju dan tas baru selama setahun. Dia bisa menghemat sebesar tiga juta enam ratus ribu rupiah! Dua tahun, sudah bisa beli laptop. Yang bisa digunakan untuk ngenet gratisan. Yang akan semakin memperbesar penghematannya!

Atau pengeluaran untuk pembelian barang-barang tersebut ditekan dengan cara menyewa saja barang-banrang yang dimaksud! Hanya 10% dari harga khan?

Hwaahahahahh….

Tidak-tidak. Saya hanya…eh…iseng-iseng saja menghitung karena tidak ada kerjaan. Ya monggo lho, Jeng. Silahkan diteruskan berbelanjanya…