Cumi-cumi Pendendam
Semalam saya tidak bisa tidur. Sama sekali. Sedikitpun tidak. Padahal saya sudah meminum obat sakit paru-paru saya (baca: “Lapaaaaar!!!) yang masih tersisa, yang punya efek membuat gila hingga tertidur. Tapi tetap saja tidak bisa tidur. Saya melirik jam dinding. Sudah pukul setengah dua belas. Hampir tengah malam. Ah…jangan-jangan jam dinding saya berbohong! Saya lalu melihat jam di HP saya. 11.32. Kurang puas, saya meihat jam di HP Esia saya. 11.45. Ah ah..tidak ada yang berbohong. Memang ini hampir tengah malam.
Lalu saya mencoba mengingat-ingat, “hari ini saya ngapain saja sampai tidak bisa merem sedikitpun?” Tidak ada yang aneh. Harusnya saya kelelahan malah! Dari jam sepuluh pagi sampai jam enam sore, saya berjalan-jalan dengan si Gendut. Kami jalan ke malioboro. Memasuki mall demi mall di malioboro, dari ujung ke ujung. Melihat-lihat baju, sepatu, sandal, dan tas (seperti sewajarnya wanita), dan juga mencari kado, serta entah apalah yang bisa bikin pacar-pacar kami tambah gantheng. Sampai gempor kaki saya. Setelah kelelahan, kami makan di KFC.
Setelah makan, kami kelebihan energi lagi, dan memutuskan untuk melanjutkan acara jalan-jalan ini ke Saphir Square. Kami pun melintasi kota menuju Saphir Square. Beli sandal centil bermanik-manik seharga Rp. 28 juta. Yah…untuk menyenang-nyenangkan pacar saya. Pacar saya sudah lama protes dengan keberadaan sandal buluk saya. Gendut mempromosikan pada saya cumi-cumi bakar di lantai bawah. Tapi saya ilfeel. Karena seperti selayaknya cumi-cumi, cumi-cumi ini diletakkan di bagian seafood segar. Saya melihat ikan-ikanan segar. Ada salmon, gurami, ikan mas, ikan pedang, dan kawan-kawannya dalam berbagai ukuran. Matanya membelalak (mana ada ikan merem?) dan tak jarang mulutnya menganga seakan kesakitan. Belum lagi belutnya. Iiiiiiiihhh… Saya pun tidak jadi membeli cumi-cumi. Kapan-kapan saja belinya, setelah saya berhasil menguatkan hati.
Dari saphir, kami lanjut ke Toga Mas. Tapi kami disana tidak dapat buku. Kami malah dapat kaos kaki berjari lima. Uuuuhhh…lelah deh…
Jam tujuh saya dan Sonya ke It’s, Ngenet-ngenet sambil bergosip sampai jontor. Jangan salah, bergosip adalah salah satu kegiatan yang paliiiiiiiiing melelahkan di dunia ini. Dan baru jam sepuluhan saya sampai di kos. Mandi, makan, lalu minum obat.
Saya mencoba dengan keras untuk tertidur. Tapi tidak bisa-bisa. Oh..jangan-jangan saya minum kopi?!! Tapi tidak ah… Saya tidak minum kopi hari ini. Di It’s saya minum teh chamomile. Apalagi saya sedang minum obat (sehari empat kali). Jadi saya tidak mungkin minum kopi. Atau…jangan-jangan saya banyak dosa?!! Ah…tidak juga! Saya bertingkah manis sekali seharian ini. Kecuali pada mbak-mbak SPG yang dengan berapi-api menawarkan obat pembasmi kecoa. Saya memotong orasi mbak-mbak itu dengan berkata, “kasian tauk, kecoaknya!” Oh iya, dan pada tukang parkir di depan Saphir Square tadi, yang berani-beraninya suit-suit godain saya. Huh, belum tau apa kalau pacar saya preman?!
Kata tjetjeu, orang tidak bisa tidur itu ada sebabnya. Yang pertama: pacarnya beda agama. Yang kedua: pacarnya beda suku. Pacar saya tidak mungkin beda agama. Saya dan dia dulu selalu keGereja bersama-sama. Eh..tapi beda suku… Apa jangan-jangan pacar saya cina ya? Atau jangan-jangan saya yang cina? Argh…harus diselidiki. Eh, hukannya saya rasis lhoh! Saya cuma percaya saja kata Tjetjeu… Saya juga bukannya sentimen sama ras cina. Wong temen deket saya pas SMU kebanyakan juga cina kok. Everybody know, I love Cinaaaaa… “Akyu pernah ditikam cinaaaa…”
ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinaaaa
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinaaa
ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinaaa
………………………………………………
Sampai jam setengah duabelasan lebih, saya belum juga bisa tidur. Yah sudah, saya memutuskan untuk mengambil lap basah, menurunkan barang-barang yang ada di kamar saya, dan mengelapnya. Semua barang, semua permukaan meja, rak, lemari saya lap. Bersih. Kinclong!! Lalu lantainya saya sapu dan saya pel. Oohh…seprai dan sarung bantal guling juga saya ganti. Kemudian saya mengatur ulang letak benda-benda di kamar saya, biar saya tidak bosan. Masih kurang lelah, saya lalu mengambil sikat lantai dan mulai menguras kamar mandi. Puiiiihh!! Saya benar-benar membabu buta. Bertingkah seperti babu di tengah malam buta!! Hasilnya bersih. Rapi. Kamar saya jadi wangi dan berkilauan. Ternyata saya berbakat untuk hidup berumah tangga. Hwahahahahahh… Cepat Hady Mirza!!! Bersegeralah melamar saiyaaa!!!!
Saya melihat jam dinding. Wah, sudah jam empat pagi. Saya pun bikin susu coklat hangat. Lalu keluar ke balkon dan sok-sokan melihat bintang. Ada legenda dari suku manaaaa githu, yang bilang kalau bintang adalah jendela surga. Dan kalau kita melihat ada bintang yang kilaunya lebih terang dibandingkan bintang-bintang yang lain, itu berarti ada seseorang yang kita sayangi, yang sudah berada diatas sana, mencoba memberitahu kita yang masih di dunia, bahwa dia bahagia disana. Uhh…
Akhirnya jam limaan saya mengantuk. Saya tiduuuuuuuuuuuurr… Saya mimpi buruk sekali tapinya. Saya mimpi, akhirnya saya membeli cumi-cumi baker di Saphir Square. Tapi ketika akan saya makan, cumi-cumi itu menjadi hidup, lalu membesar, dan semakin menyerupai Davy Jones, siluman cumi-cumi di Pirates of Caribean, dan mengejar-ngejar saya, mau memasukan saya ke Davy jones’s Locker. Hiiiyyyy… Oh oh…kenapa tidak berubah menjadi idola saya saja, SquidWard, yang mengucapkan “Hip hip, huray..” dengan nada sendu. Wuah…andaikata itu SquidWard, pasti saya peluk-peluk. Sayangnya itu Davy Jones. Jadinya saya lariiiiiiiii… Dan bangun jam 12 siang dengan napas terengah-engah. Ah..ah..ini pasti cumi-cuminya tersinggung gara-gara saya tidak mau memakannya di Shapir Square kemarin sore…