Kematian Sang Raja Besar
Saya ini orangnya tidak “melek” politik.
Tapi setelah tiga hari ini jadwal saya menonton sinetron di cut untuk melihat prosesi pemakamannya, saya mau sedikit memberikan tanggapan atas mantan presiden kita yang fenomenal, Pak Soeharto.
Terus terang, selain bukan pendukung Hady Mirza dalam kontes Asian Idol kemaren, saya juga bukan pendukung pak Harto. Saya kagum sih, dengan kecerdasannya. Dengan kemampuannya mempertahankan kekuasaan (yang serasa selama lama lama lama lamanya. Lebih lama dari selama lama lamanya). Dan dengan pesonanya. Fisikli, eyang ini gantheng, dan tampak bijaksana. Dia sexy dengan caranya sendiri. Ouch…sopan nggak sih, mengatai sexy pada embah-embah 70 tahunan, sudah mati, dan mantan presiden pula? Belum lagi caranya membangun image, dan senyumnya yang menyebarkan berjuuuuuutaaa rasa nyaman.
Tapi saya memang tidak mudah tergoda dengan ketampanan fisik belaka. Ini sudah terbukti dari cara saya memilih untuk menjadi pacarnya pacar saya daripada menjadi pacarnya Christian Sugiyono. Saya memang suka melihat senyum pak Harto. Tapi saya juga miris mendengar cerita-cerita kejam dibalik senyumnya itu.
Tahun 1998 dulu, waktu kerusuhan terjadi, saya masih terlalu imut untuk ikutan demo. Tapi setelah saya bisa berpikir, saya merasa sedikit marah karena saya dibohongi sekian lama. Buku-buku sejarah menceritakan pak Harto hanya dari sisi yang baik-baik saja. Tapi buanyaaaaak sisi yang ditutupi. Mana bagian pembunuhan kejamnya? Mana bagian aktivis yang hilang? Mana pelanggaran HAMnya? Terus juga kenapa saya dibohongi soal supersemar, juga soal G30S/PKI, dan juga banyak soal lainnya? Kenapa banyak sejarah yang dihilangkan? Padahal sejarah adalah cermin untuk belajar dari masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah.
Di TV, banyak orang yang memuji dan bahkan memuja sang Jendral gantheng murah senyum ini. Katanya dia ramah dan kalau berkunjung ke desa mereka, tidak segan-segan menyalami dan berbaur dengan mereka yang “wong cilik”. Lhah, dimana-mana presiden ya kayak githu kaleee? Namanya juga mencari simpati. Membangun Image. Lalu puji-puji dari anak dan cucunya, yang katanya dia penyayang dan bijaksana. Bahkan macanpun ya bakalan nyusuin anaknya khan?! Terus katanya lagi, pembangunan pesat, hidup mudah, lapangan pekerjaan luas, pendidikan murah, buku gratis, dll dll. Tapi itu semua khan dengan uang hasil utang luar negri. Dan sekarang, saat ini, adalah saatnya pelunasan hutang.
Dampak nggak keren dari hutang itu akhirnya terlihat. Krisis moneter memicu kerusuhan dan memunculkan karakter asli bangsa Indonesia. Krisis multidimensi. Tapi tahun 1998 pak Harto dilengserkan. Belum lagi soal korupsi yang konon dia lakukan. Yah…tapi dia terselamatkan dari peradilan dengan jatuh sakit. Saya sih tidak menuduh dia pura-pura sakit biar selamat dari peradilan yang ada. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, nasibnya lumayan baik. Lebih keren meninggal di Rumah Sakit di kelilingi keluarga dan sahabat, daripada meninggal di penjara. Atau di tahanan rumah seperti pak Soekarno dulu.
Dan segala cerita horror tentang pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, penganiayaan, pada orang yang tidak sependapat dengannya cukup membuat saya mempertanyakan daripada sekedar mengagumi senyumnya. Belum lagi soal perekayasaan sejarah dan pemusnahan buku-buku. PEMUSNAHAN BUKU-BUKU!!! Uh…sungguh kejam dan tidak keren!! Tidak berperikemanusiaan dan berperikebukuan.
Di pemakamannya yang mengharu-biru, mbak Tutut meminta maaf atas segala kesalahan sang Ayah tercinta. Saya sih mencoba untuk memaafkan. Dan saya rasa, saya tidak butuh waktu lama untuk memaafkan almarhum pak Harto. Begitu juga dengan kita-kita secara langsung tidak merasa dianiaya olehnya. (BTW, si Panji mantannya Laudya Cyntia Bella anak tirinya Mayangsari kok nggak kelihatan ya? Padahal saya nunggu-nunggu lhoh, pengen ngeceng di sela-sela pemakaman. Ngecengin sang bukti nyata keganthengan pak Harto)
Tapi bagaimana dengan orang yang pernah dianiaya, yang selama orde baru hidup dalam kenistaan sebagai tahanan politik, orang-orang yang susah cari kerja dan jadi member klub golf dan spa karena di PKI kan, sanak saudara yang ditinggal mati oleh para penegak demokrasi di Indonesia, pengarang yang bukunya (yang ditulis dengan jiwa raga bertinta darah) dimusnahkan, korban fitnah, dkk? Bisakah mereka memaafkan pak Harto?
Secara saya saja sampai saat ini masih belum bisa memaafkan mantan teman saya yang hanya memaki-maki saya di pemakaman pakde saya, mantan pacar saya yang hanya menghamili mbak-mbak SPG nggak mutu, mantan pacar saya yang lain yang hanya ternyata sudah punya tunangan (haha..hidup kok dikhianati terus?), dosen AKL II yang hanya memberi saya nilai D, dan dosen pembimbing skripsi saya yang hanya tidak juga ACC-ACC skripsi saya sejak jaman saya masih muda.
Yah…saya memang bukan orang yang pemaaf, dude… Susah mencari jalan kembali ke hati saya kalau sudah terlanjur saya usir. Tapi saya mencoba memaafkan sang Raja besar ini, walau mungkin sekarang belum bisa 100%.
Emm ini…
Saya cuma berpendapat. Menyatakan perasaan saya. Dan setiap orang boleh mempunyai pendapat, khan? Saya nggak akan di culik, khan? Saya juga tidak akan menculik anda kalau anda punya pendapat yang berbeda dengan saya kok! (haha..) Namanya juga Negara demokrasi!