Jalan kita masih panjang
Menjawab pergumulan batin Tjeu yang tidak habis-habisnya soal menikah dan dinikahi…
Usia saya masih 21. Yah…tinggal hitungan hari untuk menuju 22. Menurut saya, saya masih sangat muda sekali. Masih terlalu muda untuk dinikahi.
Kalau saya sadar saya terlalu muda untuk menikah, lalu mengapa saya memikirkan pernikahan pada hari ini? Atau minimal, mengepost blog tentang pernikahan lah?!
Pikiran-pikiran tentang pernikahan ini sudah lama bersliweran di benak saya. Selagi saya masih sibuk bergelut dengan skripsi, menyanyi di sana-sini, memenuhi hasrat bershoping-shoping dan juga masih suka mendadak berada di awang-awang bersama mimpi saya untuk keliling dunia; undangan-undangan pernikahan mulai berdatangan.
Seorang tentangga slash kawan SD slash bunga desa di kampung saya, Dian, menikah. Dia seumuran dengan saya. Yah…satu tahun diatas saya lah, secara saya memang lebih muda setahun dari rata-rata teman seangkatan saya. Oke. Mungkin memang sudah jalannya. Lalu di susul oleh Wiyati, Ningsih, Amy, Lies, dan Wulan yang semuanya adalah kawan SD seangkatan saya. Dan gebrakan datang dari Tri Wahyudi, teman SD saya juga. Yah…saya pikir yang menikah cepat adalah kawan-kawan perempuan saya saja, mungkin karena hamil duluan, atau karena pacarnya sudah tua dan mapan. Tapi ini, kawan laki-laki saya. Yang gantheng. Dan pacarnya tidak hamil pula. Yaaa…terkejut saya!
Lalu Fania, teman SMP saya. Sejak SMP dia memang sudah menunjukan kecenderungan untuk kawin muda. Bukannya dia punya perilaku sexual yang agresif (??), tapi karena bahkan sejak SMP dia sudah punya jiwa seperti emak-emak, atau bahasa kerennya: keibuan.
Lalu teman-teman SMU, Iin, Isa, dan yang terakhir, yang bikin saya hampir mati berdiri, adalah telephon dari sahabat dekat saya, Elly. “Miiiiiiiissssss, aku dilamar!!!!!!!!”
Elly oh…Elly…
Syok saya dengarnya
Saya sudah bersama-sama dengannya sejak SMP. Sangat dekat, dan berbagi segalanya. Saya melakukan banyak kesenangan dan kebejatan masa muda dari yang wajar-wajar saja sampai yang tidak masuk akal bersama dengannya. Sementara saya belum puas mencicipi dunia, Elly sudah mau mengikat diri dalam pernikahan!! Oh oh…bagaimana dengan mimpi kita untuk berphoto-photo di seluruh pelosok dunia, main film bareng Brad Pitt, dan Bacardi Lime yang setia menunggu setiap sabtu??
Yah…sudah lah. Memang sudah begitu jalannya, dan semoga berbahagia…
Lalu sahabat saya yang lain lagi, di Mudika, Eric. Si tomboy yang kelewat mandiri. Mendadak menikah, dengan alasan pacarnya sudah terlalu tua untuk menunggu lebih lama. Dan dia menceritakan itu dengan sewajarnya wajar wajarnya, seolah-olah memang dia sudah sejak lama merencanakan untuk menikah di usia 22.
Lalu tahun lalu, seorang kawan seangkatan saya di kampus, Sandra, juga memutuskan untuk menikah setelah suaminya lulus s2. Bahkan sebelum dia menyelesaikan skripsinya. Saya masih ingat waktu itu. Kami rombongan dari joga, beramai-ramai dengan dua mobil, datang ke Cilacap untuk kondangan Nico-Sandra. Saya, Dani, Pacar saya (yang waktu itu belum jadi pacar saya dan kondangan ini merupakan awal pertemuan kami), Titit, dan Gendut satu mobil berangkat dua hari sebelum kondangan. Lalu disusul Daniel, Tjeu, Ndokk, Herman, Ananta, Seno, Dwi yang berangkat pas hari H.
Baru-baru ini saya makan mie goreng telur di kantin kampus bersama dengan Ully dan Rina. Sambil ngerumpi-ngerumpi, bergosip jahat, dan bergosip asoy… Dan di tengah obrolan basi soal masker rambut, tercetuslah sebuah pengakuan tak sengaja dari si cantik Rina, “rambut aku memang mulai rontok setelah melahirkan.” awalnya saya mengira kalau dia tidak benar-benar melahirkan. Seperti halnya saya yang selalu mengeluh kalau saya ‘keguguran’ setiap saya mendapatkan menstruasi. Tapi kemudian obrolan beralih ke soal susu anak, dan susu dari tetek ibu. harga susu yang melambung tinggi, cara-cara memeras susu ibu (aiiihhh…), dan cicin pernikahan. Barulah saya sadar kalau dia benar-benar melahirkan dalam artian yang sebenarnya. “Genduuutt, pliz deh! Memangnya kamu kira aku cuti setahun karena belibur? Memangnya kamu, bolos dua minggu demi liburan ke Bali?” (apakah perlu untuk membuka aib saya tersebut, ya?)
Hwaaaahahahahh…. Saya merasa bodoh sekali.
Lalu obrolan berlanjut. “Tapi cincin ini beda sama punya Lia.” Hwaaaaaaaaaaa!!!! Saya hampir terjatuh dari kursi kantin yang saya duduki. Lia? Fyi: Lia itu teman seangkatan saya yang juga tadinya ikutan nongkrong bersama kami tapi mendadak pergi karena ada urusan penting. “Dan beda juga dari punya Mitha.” MITHA??? Hah sudahlah!!!
Saya tak sanggup mendengar lebih jauh! Begitu banyak teman seumuran saya yang sudah menikah dan beranak pinak. Sementara saya? Bahkan saya masih punya keinginan untuk S2, lalu keliling dunia.
Malamnya ketika pacar saya telephon, saya bercerita kepadanya tentang pernikahan. Tentang kegundahan saya. Apakah saya ini nggak normal karena belum memikirkan pernikahan, rasanya masih jauuuuhh sekali, padahal saya sudah punya pacar yang sangat saya cintai dan mencintai saya? Pacar saya bilang, “jalan kita masih panjang.” Mungkin empat atau lima tahun lagi, kita akan menikah. Hmmm…”kalau aku maunya sekarang?” Dan pacar saya menjawab, “Boleh. Kalau kamu mau makan tempe setiap hari!”
Mungkin itu masalahnya ya? Beberapa orang menganggap kemapanan itu penting, dan beberapa orang menganggap cinta itu yang terpenting. Saya dan pacar saya termasuk yang akan bilang, “memangnya kita mau makan cinta?!”
Bukannya saya bilang cinta itu tidak penting. Itu pentiiiiiiing sekali. Saya sudah ketemu dengan orang yang saya cintai. Lalu kita berdua sama-sama mengejar mimpi, ‘noto urip’, baru setelah itu bisa bicara soal pernikahan.
Realistis bukan?
Jalan kita masih panjang
Masih ada waktu tersisa
Coba kuatkan dirimu
Jangan berhenti disini
Beri satu kesempatan
Cinta suci berbicara
Waktu ‘kan mengilhami
Kedewasaan hatimu
Masih banyak yang mau saya capai dan saya perjuangkan. Masih banyak mimpi-mimpi saya yang belum terbeli. Masih banyak orang-orang yang saya cintai yang ingin saya bahagiakan. Sebelum saya kelak akan mengikat diri hanya padanya… (halah!!)
Tjeu, gimana Tjeu? Masih cemburu dan kepingin kawin??
February 28th, 2008 at 3:11 am
kok pada bilang blog saya ndak bisa di comment?