Mahalnya jadi wanita
Menanggapi shoping via internet….
HWAAAA….BARANGNYA LUTJU-LUTJU SEKALEEE…..
Oh tidak. TIDAAAKKK!!! Saya tidak mau seperti Tjeu, yang terjebak dalam kenikmatan sesaat berbelanja via internet! Saya memang baru saja membuka web milik sebuah butik di Jakarta. Saya membukanya pun atas rekomendasi teman saya. Jadi ceritanya teman saya punya butik di Bali. Dia menjual barang-barang fashion yang bertema etnik, dengan mutu internasional. Wuahh…saya sih tertarik. Tapi mahal sekaleee buanget!!! Teman saya sudah memberikan diskon sebesar 30% dan juga sudah meniadakan ongkos kirim. Tapi tetap saja harga-harganya tidak terjangkau oleh kantong saya. Bayangkan saja, sepasang sepatu flat motif etnik bahan kanvas dihargai sekitar delapan ratus ribu jika dirupiahkan saat ini. Coba bandingkan dengan sepatu baru saya, yang kemaren baru saja saya beli dari ongkos hasil menyanyi saya. Sepatu saya berbahan kulit san berharga HANYA seratus tiga puluh juta eh…ribu maksud saya.
Tapi yang saya taksir mati-matian di butik teman saya itu bukan sepatu. Yang saya taksir adalah kaos tunik. Warnanya coklat ada bordirnya di bawah, lehernya rendah, bahannya adem, pokoknya sangat saya sekali… Sangat cocok dipakai kondangan. Saya punya firasat kalau sebentar lagi seorang teman dekat saya bakalan ada yang merit, dan firasat saya sering tepat. Saya benar-benar terngiler-ngiler dibuatnya (tunik, bukan merit). Tapi kalau saya beli, saya bisa tidak makan sebulan.
Setelah menawarkan berbagai potongan, meniadakan pajak dan ongkos kirim, teman saya akhirnya menemui jalan buntu. Segera saja teman saya menyadari kalau saya kere sekali. Hwahahahah… Ya iya lah… Mahasiswa je… Apa yang bisa diharapkan para pemilik butik internasional dari seorang mahasiswa dengan uang saku pas-pasan, hah?
Lalu teman saya yang baik hati itu memberi alternatif kepada saya untuk berbelanja di butik milik kenalannya di Jakarta. Via internet. Barang-barangnya hampir mirip dengan yang dijual oleh teman saya yang di Bali, tapi dengan mutu dibawahnya, dan harga yang jauuuuhh dibawahnya. Yaa…harganya mulai rasional.
Seharusnya saya bersenang hati dan segera order khan ya? Tapi mendadak saya teringan Tjetjeu… Dia ketagihan berbelanja via internet seperti ini, karena dia memang tidak ada waktu untuk berjalan-jalan ke mall. Dan berbelanja dengan cara seperti ini bener-bener bikin nagih. Saya tidak mau ketagihan dong ya… Apalagi, menurut saya sih, akan lebih puas bila saya berbelanja di toko beneran, bukan toko maya. Barang yang akan saya beli bisa saya sentuh, saya raba, saya coba. Soalnya seringkali saya ini tertarik sama suatu baju di etalase butik. Namun setelah saya coba, ternyata baju itu hanya indah di pajang, tapi tidak indah bila dilekatkan di badan saya.
Yah…saya pikir sih, selagi saya masih punya waktu, lebih baik saya puas-puaskan berbelanja di dunia nyata. Tapi untuk berbelanja di dunia nyata pun saya masih pikir-pikir lagi ternyata.
Lalu saya teringat juga dengan bisnis persewaan tas branded. Itu bisnis yang umurnya masih cukup baru di Indonesia, tapi yah…prospektif lah!! Itu menjawab kebutuhan wanita Indonesia yang cekak duit tapi banyak lagak. Untuk baju A, harus pake tas yang B. Lalu kalau pakai baju C, ya harus pakai tas yang sesuai juga dong ah! Nah…para calon suami, tidak terbayang khan bagaimana kelak menghidupi istri kalian? Kalau beli baju, harus beserta tas dan sepatunya. Apalagi ibu-ibu jama sekarang doyan sekali shoping. Kalai sudah jadwalnya shoping tidak keturutan, bisa-bisa mual-mual, pusing, susah tidur, muntah-muntah hebat, mood terhadap apapun menurun drastis dan kemudia berakibat pada kemandulan. Hwaaaahahahahh…
Ya untuk menjawab persoalan semacam itulah, bisnis persewaan tas branded berdiri. Biar wanita-wanita Indonesia tetap produktif dan tidak mandul. Harga tas itu lumayan mahal lhoh. Dari lima puluh ribu sampai dengan lima puluh juta rupiah!! Kalau sewa, biasanya hanya perlu membayar sepuluh persen dari harga beli, untuk jangka waktu tertentu. Tas yang rata-rata dipakai oleh cewek-cewek seumuran saya, harganya berkisar antara seratus lima puluh ribu sampai empat ratus ribuan. Dan kalau saya lihat, ceweq-ceweq di kampus saya itu hobi sekali berganti tas. Lumayan mengirit sekali khan, kalau bisa menyewa tas?!
Tapi bisnis ini juga masih dalam taraf berkembang. Belum boom sekali. Itu karena wanita Indonesia yang gaptek dan gengsinya selangit. Ya pertama, bisnis ini biasanya tidak memiliki showroom. Pemesanan barang yang akan di sewa bisa dilakukan via internet. Yang jadi masalah disini, ibu-ibu dan mbak-mbak dandan di Indonesia biasanya tidak ‘melek’ teknologi. Belum begitu gape internetan. Dan yang kedua, gengsi dong yaaaa, kalau kondangan, terus entah bagaimana ketahuan kalau tas tangan kulit buaya seharga lima juta nya itu ternyata cuma nyewa???
Yaaahhh…begitulah realitanya.
Oh…tidak. Saya tidak tertarik untuk menyewa tas. Apalagi untuk mendirikan perusahaan penyewaan tas. Lha wong tas saya saja cuma satu biji. Sudah buluk dan sama sekali tidak branded. Saya cuma berpikir-pikir saja. Di asumsikan saja para wanita itu berbelanja baju dua minggu sekali, dan tas sebulan sekali. Misalkan bajunya seharga tujuh puluh ribu, dan tas seratus ribu (saya cari harga normal saja). Berarti dalam sebulan mereka masing-masing mengeluarkan uang sebesar dua ratus empat puluh ribu!! Belum bila mereka kepingin sepatu, sendal, cardigan, celana panjang, syal, topi, kaca mata hitam, atau apalah. Jadi saya hitung saja tiga ratus ribu untuk berbelanja barang-barang fashion.
Lalu make-up. Menurut seorang teman saya, yang melakukan perawatan wanita standar (tidak terlalu wah), dia menghabiskan sekitar seratus ribu per bulan untuk membeli produk-produk kecantikan seperti lotion, scrub, sabun, shampo dan conditioner, bedak, pembersih muka, pelembab, lipbalm, dan lain-lain. Dan tiga bulan sekali dia membeli parfum seharga tiga ratus ribu. Jadi kalau dirata-rata untuk parfum perbulan seratus ribu.
Biaya ke salon dua minggu sekali, yang berarti sebulan sekali sekitar empat puyluh ribu. Jadi sebulan delapan puluh ribu.
Jadi dalam sebulan, untuk mempercantik diri, dia mengeluarkan uang sebesar lima ratus delapan puluh ribu rupiah (Rp 300rb + Rp 200rb + Rp 80rb). Padahal uang sakunya sebesar satu juta rupiah perbilan. Jadi, pengeluaran untuk kecantikan adalah sebesar 58% dari pemasukannya. Wuaaahhh…!!! Sisanya digunakan untuk makan, pulsa, bensin, nonton, fotokopi, beli buku, ngenet dll dll dll.
Coba kalau dia tidak membeli baju dan tas baru selama setahun. Dia bisa menghemat sebesar tiga juta enam ratus ribu rupiah! Dua tahun, sudah bisa beli laptop. Yang bisa digunakan untuk ngenet gratisan. Yang akan semakin memperbesar penghematannya!
Atau pengeluaran untuk pembelian barang-barang tersebut ditekan dengan cara menyewa saja barang-banrang yang dimaksud! Hanya 10% dari harga khan?
Hwaahahahahh….
Tidak-tidak. Saya hanya…eh…iseng-iseng saja menghitung karena tidak ada kerjaan. Ya monggo lho, Jeng. Silahkan diteruskan berbelanjanya…