What thing(s) I do before I die
Andaikata temen saya ternyata naksir berat sama pacar saya yang paling gantheng sejagad raya. Teman-saya-yang-naksir-berat-sama-pacar-saya-yang-paling-gantheng-sejagad-raya itu lalu menyusun strategi untuk membunuh saya.
Pada suatu malam, dia minta izin untuk menginap di kos saya. Saya yang baik hati dan tidak berprasangka tentu saja mengizinkan. Saat saya tidur, dia menyuntikan racun yang bisa membunuh manusia tanpa rasa sakit, dalam waktu 120 jam. Dan ketika pagi datang dan saya bangun, teman saya itu tertawa seperti layaknya psikopat kejam pembunuh teman yang pacarnya paling gantheng sejagad. “Ho ho ho…aku telah meracunimu. Ho ho ho…percuma punya wajah secantik kamu kalau 5 hari lagi kamu akan mati. MATI. Catet ya! MATI!! Yeuk..”
“Oh…tidaaaak!!!!”
Saya akan menutup muka saya dengan tampang terkejut tapi tetap cantik.
Oke… Omongan teman-saya-yang-naksir-berat-sama-pacar-saya-yang-paling-gantheng-sejagad-raya itu ada benarnya juga. Bahwa tidak penting untuk membicarakan kecantikan saya secara hidup saya tinggal 120 jam, atau 7200 menit. Saya harus menggunakan menit-menit terakhir hidup saya untuk melakukan sesuatu yang berguna. Dan membicarakan kecantikan saya bukanlah sesuatu hal yang berguna, karena tanpa dibicarakan pun semua orang pasti tahu saya ini cantek sekaleee…
Saat itu, karena saya baru saja bangun tidur, (dalam imajinasi liar saya) adalah pagi-pagi buta jam 10. Oke, untuk melengkapi imajinasi saya, ini adalah hari senin. Jadi hari senin jam 10 pagi. Yang berarti, pada hari sabtu jam 10 pagi saya mati, seperti kata teman-saya-yang-naksir-berat-sama-pacar-saya-yang-paling-gantheng-sejagad-raya “MATI.! Catet ya! MATI!! Yeuk..”
Saya langsung teringat, kalau orang yang mau mati itu biasanya minta-minta maaf pada semua orang yang pernah di buatnya menderita. Mmmm…masalahnya, orang yang saya buat menderita itu ada buanyak sekaleee… Baik yang secara nggak langsung (seperti orang-orang yang iri pada kecantikan saya, atau orang-orang yang naksir pacar saya yang paling gantheng sejagad misalnya..), ataupun secara langsung (yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada orang yang saya buat menderita secara nggak langsung). Padahal waktu saya tinggal 120 jam. Jadi, saya nggak mungkin melakukan ini.
Lalu saya teringat mimpi-mimpi saya.
1.Main film bareng Jhony Deep
Walaupun saya cantik, baik hati, dan sangat berbakat, saya rasa lebih mudah bila seorang Ade Ray masuk ke lubang jarum dari pada saya menembus birokrasi holywood dalam waktu lima hari.
2.Lulus
Argh!@#$%^&* sementara penelitian skripsi saya masih dalam proses tahap awal dan dosen pembimbing skripsi saya sedang menggila, saya rasa menembus birokrasi Hollywood bahkan jauh lebih mudah daripada lulus dalam waktu lima hari.
3.Menikah
Yah…pacar saya belum tentu siap. Belum lagi keluarganya dan keluarga pacar saya, karena menikah tanpa restu orang tua, bahkan bila kita mau mati pun, adalah DOUSA BESAR!! Lalu seandainya pasar saya mau dan rela menikahi saya, masa saya tega meninggalkannya sebagai duda miskin tanpa anak? Bah!!
4.Bercinta di atas pasir di tepi pantai yang sepi di bawah temaram cahaya bulan
Bahkan untuk melakukannya saya harus menikah terlebih dahulu, dan untuk itu harus melewati kesulitan-kesulitan nomor (3), lengkap dengan kata “Bah!!”.
5.Melakukan dosa kecil-kecilan seperti merampok bank atau memakan janin
Pertama, saya tidak punya keahlian membobol brankas. Dan kedua, kata Doni teman saya, Janin itu rasanya nggak enak. Lebih nggak enak dari pada sosis sapi dan acar ketimun.
6.Menemui Raam Punjabi dan menceramahinya soal tayangan sinetron yang realistis dan mendidik
Saya bahkan tidak tau om Raam itu tinggal dimana dan bentuknya seperti apa!!!! *mulai histeris!! Bahkan lebih histeris daripada saat saya pertama kali tahu umur saya tinggal 5 hari*
7.Menghentikan peperangan dan mengatasi kelaparan di muka bumi
Satu-satunya jalan yang paling mungkin untuk saya lakukan adalah memenangkan kontes miss Universe. Tapi masalahnya, karantina calon miss universe memakan waktu lebih dari lima hari!
AAAAWWWWWWW!!!!!
Saya mulai frustasi, jongkok sambil memegangi kepala *pose frustasi ala sinetron Indonesia*. Hidup saya tinggal sebentar, dan tidak ada satupun impian saya yang bisa terwujud. Sementara hari mulai siang dan waktu yang berharga itu saya habiskan HANYA untuk berpikir dan bukannya Do something or go to somewhere.
NAH YADA YADA YADA!!!
GO TO SOMEWHERE!!!
Kok bisa-bisanya ditengah sakratul maut saya melupakan obsesi saya yang paling besar?! Akh…pasti ini pengaruh dari racun yang disuntikan oleh teman-saya-yang-naksir-berat-sama-pacar-saya-yang-paling-gantheng-sejagad-raya. Yaitu…
8.KELILING DUNIA!!!
Menjelajahi seluruh pelosok dunia. Menikmati panorama alam dan melihat berbagai budaya.
Matamu!! Memangnya keliling dunia nggak pakai duit!! “Duit bisa dicari, dude”. Iya, tapi mencari duit untuk keliling dunia itu nggak cukup waktu lima eh empat setengah hari. Dan keliling dunia juga nggak cukup waktu lima hari!!
Yah…terpaksa saya merevisi mimpi saya tersebut, agar sesuai dengan anggaran yang ada dan lebih realistis. Untung jaman bahulak dulu saya sudah terbiasa mrevisi proposal agar sesuai dengan anggaran minim dan pemikiran sempit rektorat. Aha!!!
Tidak mungkin dengan tabungan saya, saya keliling dunia. Tapi masih mungkin untuk pergi ke suatu Negara yang jauh dan dengan kondisi alam dan budaya yang sangat berbeda dari Indonesia. Lalu hidup minimalis selama empat hari disana. Tidak perlu memikirkan tiket pulang ke Indonesia karena toh saya akan berpulang juga sehingga tidak perlu pulang.
Haha.. HA HA HA!!!!
Saya segera membereskan koper. Ah…pulang ke Solo dulu ambil paspor di rumah. Lalu pergi ke rumah sakit untuk mencium ibu saya yang sedang bekerja. Lalu pergi ke bank untuk mencairkan tabungan saya yang oh..sedikit sekali dan mencium bapak saya yang bekerja di bank juga (sungguh efisien). Lalu ke Jakarta. Ke kantor pacar saya, memaksa masuk bagaimanapun caranya dan mencium pacar saya untuk yang terakhir kalinya.
Lalu pergi…
Ups, kenapa saya tidak mengajak pacar saya saja?
Saya kembali lagi ke kantor pacar saya. Menjelaskan dengan singkat bahwa saya akan mati dalam waktu kurang dari 5 hari. Dan memintanya membuktikan cintanya dengan cara membobol tabungannya dan mengikuti saya ke…uuummmm…ke…eh…mana ya? Yah suatu Negara di benua Eropa atau Afrika lah!
Lalu kami naik taksi ke bandara. Terjebak macet seperti sewajarnya perjalanan di Jakarta pada siang hari yang cerah. Dan ini adalah percakapan singkat saya dengan sang sopir taksi.
Sopir taxi : “Mau kemana, mbak?”
Saya : “Bandara!”
Sopir taxi : “Iya saya tahu. Maksud saya, mau kemana kok ke bandara?”
Saya : “Entahlah. Saya sebentar lagi mati dan kepingin keliling dunia, pak!”
Sopir taxi : *menghela napas ala orang-orang bijak di sinetron Indonesia* “Anda ngak perlu keliling dunia kalau mau mati. Anda seharusnya melakukan hal-hal baik biar masuk surga. Dan anda nggak perlu keliling dunia untuk melakukan hal-hal baik, karena seluruh dunia ini adalah tempat yang buruk. Setiap kota sama saja. Jakarta maupun Calcuta sama-sama punya McD. Sama-sama punya derita.”
Bleh!!!
Bahkan mau matipun saya sial sekali, naik taksi yang sopirnya lebay dan pesimistis soal dunia! Terserahlah. Saya tetap kepingin keliling dunia. Tujuan saya khan bukan kepingin berbuat baik! Saya khan bukan orang baik. ANDA, tau itu khan?
Oh iya, saya juga akan menambah romantis suasana dengan mengatakan suatu hal yang paa situasi khusus tidak bisa saya ungkapkan kepadanya. Oh shit!! Saya lupa saya ini ember bocor kalau sama dia. Jadi saya sudah tidak punya rahasia.
Padahal akan keren sekali seandainya tiba-tiba saya bilang bahwa saya sebenarnya sudah punya anak yang sebentar lagi akan masuk SD, atau bahwa saya sebenarnya adalah ultramen taro.
Oh…seandainya saya punya anak yang sebentar lagi mau masuk SD, atau seandainya saya adalah ultramen taro. Saya baru menyadari, bahwa selama ini hidup saya datar-datar saja. Tidak ada anak yang sebentar lagi mau masuk SD ataupun ultramen taro.
Ah ah…
Mimpi memang tanpa batas!