Dilema Halaman Persembahan
Sekararum’s lover, akhirnya. Akhirnya setelah perjuangan yang sangat2 panjang, makan hati, makan harta, dan banyak tetesan air mata, keringat serta darah, saya bisa sedikit bersantai. Saya mulai bisa lagi merencanakan perjalanan jauh, nongkrong2 sepanjang malam, tidur2 sepanjang siang, shoping2 sepanjang uang, dan yang paling penting, ngeblog2 sampai tuaaaa…
Skripsi saya sudah 80% jadi. Yah..tinggal menunggu ACC lah ya.. Yang entah
kapan datangnya karena dosen pembimbing saya tidak menunjukan tanda2
perkembangan mental.
Saya sudah merencanakan keliling-keliling Eropa naik motor dengan telanjang sambil menari hula-hula beramai-ramai. Yah…tidak segila itu dink!
Tapi lagi-lagi, saya kembali dipusingkan oleh bagian tersulit dari penulisan skripsi. Coba tebak, bagian yang lebih sulit daripada pencarian data, pembahasan, dan analisis data skripsi? Yup..halaman persembahan! Halaman persembahan merupakan selembar halaman pada skripsi yang khusus ditujukan untuk mengucapkan terimakasih kepada orang-orang di belakang layar pembuatan skripsi.
Masalah pertama adalah pada jumlah halaman. Biasanya, halaman persembahan ini hanya berjumlah satu halaman. Atau mentok2nya, dua halaman lah. Ini
menjadi masalah untuk orang se oke saya, yang bahkan dalam pengerjaan
skripsipun, banyak sekali yang ingin membantu saya. Yah..walaupun mereka2 itu hanya berhenti pada level “ingin”. Tapi yang penting khan niatnya. Dan niat yang baik tentu harus di balas dengan baik.
Secara etika, Jesus Christ, MoM, DaD, pacwar, dosen pembimbing, dosen penguji, dan kaprodi adalah nama2 yang harus ada pada baris teratas halaman persembahan. Namun pada kenyataannya, kebanyakan para thesis writer adalah penghujat Tuhan (haha..). Apalagi untuk kasus skripsi yang pengerjaannya lama seperti skripsi saya. Padahal apabila kita tidak mencantumkan nama itu, kita bisa di atheis-atheiskan. Lalu kebanyakan juga, dosen pembimbing, dosen penguji, kaprodi, dan segala birokrat2 pendidikan itu malahan merupakan penghambat dari kemajuan skripsi.
Belum lagi soal pacar. Yah..kebetulan sekali sih, pacar saya adalah pacar yang sangat gantheng dan berbudi luhur, yang selalu dan sebisa mungkin menyuport saya baik secara material maupun spiritual dalam pengerjaan skripsi saya. “Terimakasih oh pacar, jasamu sungguh tak terhingga…”. Namun saya juga menemui kasus pacar yang menghambat skripsi. Teman saya, sebut saja Clarissa Madiana bukan nama sebenarnya (haha..) mempunyai seorang pacar yang tidak segantheng pacar saya. Pacar si Risa ini, sudah tidak gantheng, merepotkan pula. Tidak sabar dalam mendengarkan segala keluh kesah Risa mengenai skripsinya, tidak mau mengerti tentang kelelahan Risa dalam
mengerjakan skripsi, tidak membantu sama sekali dalam pengerjaan skripsi, selalu menuntut waktu dan perhatian berlebih, dll dll. Seperti halnya saya, pengerjaan skripsi kawan Risa telah sampailah pada halaman persembahan. Dan dilema mulai merambah hatinya. Pacarnya ini bukanlah orang yang patut diterimakasihi dalam hal pengerjaan skripsi. Tapi menurut etika, nama pacar harus tercantum dalam halaman persembahan pada baris yang lumayan atas. “Special tanks to mas Pacar, atas segala suport, perhatian, dan kasih sayangnya pada saya. Cup cup Muach… I luph u, honey… Bloody luph”. Yah kira2 seperti
itu lah… Bingung sekali kawan Risa ini.
Lalu permasalahan saya adalah Tjeu. Iya, tjeu-saya yang sudah saya anggap
pacar saja itu. Tjeu itu, dikala teman2 semacam saya dan Agnezt dihadapkan pada kenyataan skripsi yang begitu kedjam, dia malah melarikan diri. Memilih berkarir diJakarta yang katanya sih demi penghidupan yang lebih layak, namun saya yakin itu semua demi melarikan diri dari kegilaan para penulis skripsi. Sungguh bermental bejad dan tidak bertanggung jawab. Saya hujat. HUJAAATTT!!! Dan untuk mengurangi rasa bersalahnya, dia mencoba menawarkan pada saya untuk membelikan saya cartride printer. Padahal yang saya butuhkan saat ini adalah sebuah Villa di daerah plateau untuk melepas penat. Tapi dia tetap bersikukuh bahwa yang saya butuhkan adalah cartride printer.
Sungguh terlalu!
Demikian pula dengan si Gendut Agnezt yang sudah saya anggap saudara, dan Dani yang sudah saya anggap pembantu itu. Merekapun hanya bisa mencela-cela saja soal skripsi saya. Tidak ada setitikpun niatan baik untuk sekedar membelikan saya laptop baru yang lebih canggih dan ringan agar saya lebih bersemangat mengerjakan skripsi.
Sementara Dancyuk melarikan diri ke Surabaya, Si Gendut Agnezt dengan tidak
tahu dirinya, bukannya mendukung pengerjaan skripsi saya, malahan mendesign kebaya untuk wisuda. Dia sudah mendesign kebaya ala Julia Perez yang banyak ventilasinya agar tidak telalu kepanasan saat wisudaan nanti.
Lalu kembali lagi kepada permasalahan orang oke. Saya, seperti halnya orang oke-orang oke lain di dunia ini, saya mengalami kebingungan untuk memilih mana kawan yang cukup oke untuk di tulis pada halaman persembahan sehingga bisa meningkatkan ke oke-an skripsi saya, dan mana teman yang harus masuk dalam kategori “dan lain-lain”. Ada teman menggereja semata wayang, yaitu sukloworwor. Teman seperjuangan, sepermainan, sepertongkrongan, sepermabukan, seperkos-kosan, sepergilaan, dan juga teman berdiskusi, yang masing2 jumlahnya puluhan ribu. OMG!!! Saya benar-benar binggung.
Yang jelas-jelas tanpa pikir panjang akan ditulis oleh penulis skripsi dalam halaman persembahan adalah nama orang tua, yang telah membiayai hidup, kuliah, dan skripsi kita. Yang walau seandainyapun tidak membiayai kuliah dan skripsi kita, paling tidak telah rela membuat kita, dan memberi kita makanan yang bergizi sehingga kita bisa sampai pada bangku kuliah.
Sempat juga terpikir oleh saya untuk meniadakan halaman persembahan. Jadi
saya otomatis tidak akan terbebani oleh kewajiban mengucapkan terimakasih pada orang-orang yang tidak perlu diterimakasihi. Tapi saya tidak siap menanggung resiko, di cap sebagai sarjana yang tidak tahu terimakasih. Gawat sekali bukan?! Bisa-bisa saya diusir dari Jogja dengan tidak hormat.
Klowor memberi ide pada saya untuk menggunakan sistem random sampling.
Menaruh nama-nama dalam sebuah kotak. Lalu kita ambil secara acak sejumlah sepuluh sampai lima belas nama. Sepuluh sampai limabelas nama yang terambil merupakan nama-nama yang akan tercantum dalam halaman persembahan skripsi saya. Tapi masalahnya, resiko nama Jesus Christ, Mum, Dad, pacwar, dan para dosen untuk tidak terambil akan sangat besar. Dan itu bahaya sekali karena menyalahi etika.
May 16th, 2008 at 5:46 am
tes tes