Kuntilanak
Saya sedang sangat sangat sangat terobsesi untuk menjadi Kuntilanak!!
Ide ini berawal dari ditebangnya pohon asem di pinggir Jembatan yang membelah hutan di dekat b’jong kopi. Pohon itu bukan sembarang pohon asem. Pohon asem itu adalah pohon kesayangan Pocong. Banyak saksi mata yang mengatakan bahwa mereka sering melihat pocong nongkrong disitu. Yang saya heran, mereka bercerita dengan bergidig ngeri, bahkan berniat jahat untuk mengusir si pocong itu dari sana.
"Saya lihat pocong. Sereeeeemmm banget."
"Takut?"
"Ya iya lah.."
"Lalu, apa yang kamu lakukan?"
"Lari terbirit-birit"
"Lalu, apa yang pocong lakukan?"
"Memperlihatkan diri pada saya dari bawah pohon asem"
"???"
Sekarang begini, pohon asem itu sudah tua sekali. Mungkin lebih tua dari kita. Dan entah sejak kapan pocong itu suka nongkrong disana. Mungkin bahkan sebelum kita lahir, pocong itu sudah suka nongkrong dibawah pohon asem, yang memang cozy githu deh buat nongkrong malem-malem. Lagi pula ya, pocong itu hanya berdiri berdiam diri di bawah pohon. Tidak mengejar lalu mencekik kita. Bahkan tidak mengeluarkan suara dan bau. Sah-sah saja kalau kita takut. Karena memang itu keahlian dia, menakut-nakuti yang hidup. Tapi kalau sampai berniat mengusirnya? Ouw..sungguh tidak berperikepocongan!! Biacong! Bajingcong!!
Nah, sekarang pohon asem cozy itu ditebang, dan jalan jembatan diperlebar. Kasian sekali pocongnya. Nongkrong dimana dia? Khan bukan salah dia kalau dia berbentuk pocong (yang sebenernya biasa aja tapi karena propaganda layar kaca menjadi dianggap menyeramkan). Masa iya dia minta menjadi semahluk pocong yang diikat dan dibuntal seperti itu? Itu khan mahluk ciptaan imajinasi manusia (yang sebenarnya tidak minta di jadikan objek imajinasi), yang kemudian mewujud karena kekuatan pikiran dan kelelahan otak, imajinasi tinggi, ingin pergi dari realita, atau dengan kata lain STRES!
Tapi memang sih bentuk pocong itu sangat tidak mengundang simpati. Jelek, buluk, dan old fashion. Tapi bukan salah dia sebenarnya kalau dia buruk. Mengapa juga manusia menciptakan dia seburuk itu, dan mengapa layar kaca memvisualkannya dalam bentuk begitu? Coba kalau kita dari awal mula membayangkan dan memfilmkan pocong itu seperti Ari Wibowo atau Tom Cruise. Pasti tidak akan seseram itu.
Saya jadi teringan akan jenis demit yang lain. Demit yang satu ini menurut saya sangat oke. Cantik, menarik, popular. Dia adalah Kuntilanak. Kalau pocong dengan buntalan putihnya dikatakan old fashion, kuntilanak dengan gaun putih dan elegannya saya katakan sebagai the basic fashion. Gaun putih, bagaimanapun juga, selalu akan menjadi trend pada musim apapun, bila didukung dengan aksesoris dan model yang tepat.
Dan Kuntilanak ini selalu menjadi inspirasi bagi saya. Oke, kita akan sedikit menengok sejarah. Apakah ada yang ingat kuntilanak pertama diindonesia? Yup, Suzana. Suzana benar-benar kuntilanak sejati. Sangatlah cocok bila dia disebut-sebut sebagai pelopor kuntilanak Indonesia. Dia cantik, dengan kecantikan yang mistis dan klasik. Dan juga sangat berkarakter…horor. Yang paling tertanam dan meninspirasi saya adalah adegan ketika dia makan sate. Ceritanya dia mencegat abang tukang sate keliling
Kuntilanak: dengan nada datar "Bang, sate 10 tusuk".
Abang tukang sate: "Pake lontong neng?"
K: dengan nada datar "Enggak, bang".
Lalu kuntilanak makan dengan lahap 3 tusuk sekali telan
K: dengan nada datar "Lagi, bang"
Lalu Kuntilanak makan lagi
K: dengan nada datar "Lagi, bang"
Lalu Kuntilanak makan lagi
K: dengan nada datar "Lagi, bang"
ATS: mulai curiga "Banyak amat atuh, neng?"
K: dengan nada datar "Buat anak saya, bang"
ATS: "Anaknya mana, neng?"
K: dengan nada datar "Dipunggung saya, bang"
Lalu kuntilanak berbalik dengan dramatis. "Iiiiiiihiyhiyhiyhiyyyyyyy…."
Atau adegan yang ini…
Kuntilanak mendatangi pos ronda. Lalu merayu tukang ronda yang kedinginan di malam sepi tanpa pelukan hangat sang istri yang sudah di rumah mengeloni anaknya.
Abang tukang ronda: dengen nada genit "Sendirian aja, neng?"
K: dengan nada datar "Iya, bang"
ATR: "Mau abang temenin?"
K: dengan nada datar "Iya, bang"
Lalu kuntilanak berjalan menghampiri pos ronda
K: dengan nada datar "garukin punggung saya dong, bang"
ATR: mulai bertampang mesum "hikhikhik…gatel ya, neng?"
K: dengan nada datar "Iya, bang, banyak cacingnya…"
Lalu kuntilanak berbalik dengan dramatis. "Iiiiiiihiyhiyhiyhiyyyyyyy…."
Dan masih banyak adegan yang membekaskan trauma pada diri anak kecil di kala itu
Tapi kuntilanak tidak pernah mati gaya. Dia tidak akan pernah jobless. Bayangkan, pada jaman suzana saja, kuntilanak hadir dengan beberapa versi: Nyi Blorong, Kuntilanak melahirkan di kubur, sundel Bolong sang sundal penikmat sate, siluman ular, dll. Lalu pada jaman saya SD, kuntilanak hadir dengan kemasan yang lebih sexy, yaitu si Manis Jembatan Ancol. Lalu muncul kuntilanak-kuntilanak pendendam yang lain. Dan di jaman sekarang, kita mengenal kuntilanak penunggu terowongan casablanca yang hoby dugem, dan kuntilanak bintang iklan M150 susu yang bertoket bohay…
Dan bahkan sekarang kuntilanak sedang merilis album, dengan hits andalannya: Rintihan Kuntilanak
Rintihan Kuntilanak
Malam sepi kusendiri
‘ku duduk manis diatas pohon
‘ku biarkan rambutku terrrruraiii
ditemani kelelawar anjing hutan (hauuuuuuunnnggg…)
Reff:
Ayo matiiiii kekasihku
Cepat matiiiii bunuh diri
ayo matiiiii kekasihku
Biar kita jumpa lagiiii
Iiiiiiiiiiihiiiyhiyhiyhiy….
Tapi sebenarnya disitulah kesalahan media masa dalam menggambarkan kuntilanak. Mereka mengeneralisir bahwa semua kuntilanak itu direproduksi dengan cara begini: Ceweq cantik jalan malem-malem sendirian, diperkosa rame-rame, dibunuh, dikubur di hutan atau di kebun belakang rumah tua, lalu tarrrrraaaa…kombinasi dari semua itu akan menlahirkan kuntilanak. Dan kuntilanak selalu digambarkan mendendam. Padahal tidak segampang itu!!! Proses untuk menjadi kuntilanak itu sangat rumit dan berat. Dengan segala seleksi dan syarat-syarat yang tidak semua orang bisa. Dia harus memenuhi syarat brain, beauty, dan behavior. Selain itu kuntilanak juga harus cinta lingkungan. Jadi bukan sekedar ceweq cantik diperkosa lalu mendendam. Sekali lagi, kuntilanak itu punya prinsip!!
Baik kuntilanak maupun pocong merupakan aktivis dibalik slogan anti global warming. Mereka turut membantu pelestarian alam dan lingkungan hidup, juga merupakan pemertahan hutan indonesia yang paling gigih. Bayangkan saja komitmen mereka, mereka akan menghantui orang yang berani-beraninya menebang pohon yang mereka jaga. Bayangkan seandainya pocong dan kuntilanak di sebarkan di seluruh dunia. Maka penggundulan hutan dan penebangan semena-mena mungkin bisa dikurangi.
Tapi memang realitanya, semakin terpelajar suatu masyarakat, semakin mereka tidak menghargai alam. Mereka jadi tidak takut lagi pada kuntilanak dan pocong yang oke punya dan keren abis itu. Buktinya, mereka tetap saja menebang pohon asem deket b’jong, walau jelas-jelas pocong dengan gigih telah menghantui pohon itu bertahun-tahun. Penghargaan manusia akan alam dan pocong sudah tidak ada lagi. Kasian sekali khan kalau eksistensi mereka tidak diakui? Mereka juga punya perasaan, ingin dihargai, ingin eksis!! Sesama mahluk Tuhan janganlah saling membenci githu dong. Tapi saya mendukung pocong untuk terus menghantui pohon-pohon yang masih tersisa di Indonesia, di seluruh dunia. Kalau memang satu pocong tidak cukup lagi untuk menjaga pohon, kerahkan bangsamu wahai dedemit. Biarlah satu pohon ditunggui oleh 5 sampai dengan 10 pocong. Penuhi hutan Indonesia dengan pocong.
Dan para kuntilanak, duduklah manis di atas pohon kalau tidak sedang ada syuting. Tanamlah satu pohon, dan hantuilah pohon itu dari kecil. Kalau perlu, rumput, semak-semak, pohon cabe, dan pohon jengkol hantuilah saja semuanya.
November 4th, 2008 at 6:18 pm
Heheheh, mantap bang tulisannya
December 31st, 2008 at 8:32 pm
duh… kunti. tragis amat nasib mu…