malam minggu
Kemarin adalah malam minggu yang indah…emm sekaligus tidak indah.
Malam minggu kemarin Dani pulang ke Jogja, lalu saya dan kroni-kroni saya (meminjam istilah Klowor) menikmati malam sampai pagi bersama-sama. Dani, saya, Ndokk, Gendut, dan Titit. Dani dari Jakarta, turun di stasiun lempuyangan jam setengah sebelasan, dijemput bapaknya, memulangkan bapaknya ke Jalan Kaliurang, lalu langsung meluncur gila-gilaan ke koz saya.
Kami sepakat untuk membeli bir, lalu nongkrong di Poci Kaliurang. Tapi begitu sampai di Kaliurang, mendadak para penumpang gila itu sepakat berubah pikiran bersama-sama, “kayaknya di Keteb view nya lagi bagus nih!” Sebagai seorang sopir gantelman yang penuh pengertian, Dani segera memutar arah keKeteb sambil misuh-misuh. Begitu hampir sampai Keteb, mendadak semua penumpang berubah menjadi religious, “kayaknya Sendangsono lebih asik deh ya..” Untuk usulan kali ini, Dani hanya misuh-misuh tanpa merubah arah.
Karena keegoisan Dani (haha..), jadilah kami nongkrong di Keteb. Itu pun Dani sambat
Dani: “Asu! Adem tenan! Nggak persiapan kalau mau ke Keteb. Cuma pake celana pendek dan Jaket tipis.”
Dani dan Ndokk saat itu memang sedang berkolor jijay. Saya juga Cuma bawa cardigan tipis sebenernya. Tapi di perjalanan, Dani menyerahkan titipan dari pacar saya. Pacar saya membelikan saya Jaket. Yuhuuu..anget!! Terimakasih, cintaaa..
Dani: “Kalau Cuma ke Kaliurang mah, kostum kayak gini nggak apa-apa!”
Titit: “Yo wis, Dan. Anggep wae iki Kaliurang”.
Dani: “Rha iso, Tit! Rha iso! Masalahe iki ono tulisane Keteb”.
Memang udara duingiiiiinn buanget! Kami mengusir dingin dengan masuk ke bagasi mobil sambil empet-empetan, ngudud-ngudud, dan ngebir-ngebir. Yah..standar saja sih kegiatannya. Seperti yang biasa kami lakukan kalau kami nongkrong nunggu sunrise. Ngobrolin Herman yang jadi tukang gulung benang, seno yang jadi tukang kredit, Pacar saya yang sukses jualan buku, Dani yang jadi buruh pabrik sabun dengan jobdesk yang rawan bacokan (jobdesk Dani: pengawas, a.k.a tukang misuhi kuli bikin sabun yang kerjanya meleng), Saya dengan kuliah profesi saya yang ajubile bikin gila dah, dan tentu mencela mereka-mereka yang S1 nya tidak tamat-tamat. Haha..
Ada juga tips berguna dari Titit.
“Masukan di tong atau drum minyak, siram dengan air aki. Itu akan menghancurkan daging dan tulang-tulangnya sekalian. DNA nya pun akan hilang. Karena aki adalah asam yang super kental. Lalu untuk pakaiannya, dibakar. Jangan dibakar terus ditinggal, tapi dibakar sampai habis, dibolak-balik, dan abunya di buraikan. Cara diatas harus segera dilakukan begitu mati. Jangan ditunda-tunda, karena makin lama, mayat akan berbau tidak sedap dan makin memancing kecurigaan. Rencanakan mutilasi dengan baik. Persiapkan dulu bahan-bahannya. Beli air aki di bengkel-bengkel. Jangan sekaligus, tiap bengkel cukup beli dua liter. Jadi, belilah di beberapa bengkel. Khan paling tidak di Jogja ada khan ya kalau Cuma 20 bengkel yang jual aki.”
Saya membayangkan
Saya: *berjongkok sambil mengaduk-aduk mayat dengan air aki di dalam tong di depan halaman koz*
Ibu tetangga depan rumah: “Ndamel nopo, mbak Arum?”
Saya: “Eh..enggak kok bu.. Cuma lagi ngilangin bukti pembunuhan yang kemaren saya lakukan”
Gendut membayangkan
Gendut: “Pak, beli aki dua liter.”
Bapak tukang bengkel: “Oh..nggih,” berbasa-basi sambil mengambilkan aki, “kangge nopo tho, mbak agnez?”
Gendut: “Eh..namung kangge persiapan mutilasi kok pak”.
Hwaahh..selain Titit, kami-kami memang tidak punya bakat kriminal.
Tapi kegiatan standar itu, sangat mengangenkan sekali banget!!!! Hwaaaaa…sedihh!! Andai kami bisa begini terus sepanjang waktu. Empet-empetan di bagasi belakang mobil bapaknya Dani. Bir dan rokok, persahabatan dan celaan, kehangatan dan pengertian.. Yang cantik (saya) dan yang hancur (Titit), Yang Gendut (Gendut) dan yang sexy (saya), yang pinter (saya) dan yang pekok (Dani), yang tua (Ndokk) dan yang muda (saya), semua berpelukan, berbagi rasa.
Hwaaaaaa… Kangen. Sedih rasanya mengingat besok-besok kita sudah harus beraktivitas sendiri-sendiri. Saya kembali kekelas, Dani ke pabrik sabun di Jakarta, dan begitu pula yang lain-lain. Momen-momen seperti ini memang indah dan berharga..
Lalu begitu Ndokk sudah memakai celana dan memantapkan duduknya di bagasi hangat itu, dan menyulut sebatang rokok, kami memutuskan untuk pulang (haha..). Memang hal teroke menurut kami adalah merecoki kenyamanan teman.
Sumpah saya kangen. Saya rasanya rela menukar satu gigi taring saya demi bisa menikmati momen seperti itu lebih sering lagi. Tapi apa daya. Life must go on. Saya harus menyongsong hari senin seorang diri dengan kepala tegak. Gudbye may prend.. Heloow auditing, heloow accounting, heloow bussines Ethic, heloow pak Arippppp.
Hwaaaaaa….
(lebay..)